Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, gaya komunikasi Plt Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Ulta Levenia Nababan dalam merespons kritik mahasiswa tidak mencerminkan arahan Presiden yang menekankan komunikasi terbuka, objektif, dan berbasis data.
Penilaian itu muncul setelah polemik unggahan Ulta yang menyamakan jas almamater Universitas Indonesia (UI) dengan “daster kuning”.
Prinsipnya, kalau berkomunikasi dengan kelompok-kelompok kritis itu ya mendengar dulu, terima dulu, baru jawab dengan argumen yang kuat, argumen yang kokoh, argumen yang berbasiskan kepada data,”
kata Ujang saat dihubungi Owrite, Senin, 27 Juli 2026.
Ditegaskannya, kritik dari mahasiswa seharusnya dijawab dengan penjelasan yang rasional dan didukung fakta empiris, bukan dengan narasi yang berpotensi menimbulkan polemik baru. Pendekatan komunikasi seperti itu, menurutnya justru akan memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah.







