Sangat tidak bijak jika energi pemerintah dan perhatian publik habis disedot oleh polemik naik-turunnya angka survei di awal perjalanan. Sekarang adalah waktunya bekerja keras, bukan bertanding wacana,”
ucapnya.
Sugiat mengibaratkan pemerintahan sebagai proses membangun rumah yang membutuhkan fondasi kuat sebelum hasilnya dapat dirasakan masyarakat secara luas. Karena itu, ia meminta publik memberikan waktu kepada pemerintah untuk menyelesaikan proses tersebut.
Ibarat membangun rumah yang kokoh, fondasinya harus kuat dulu. Pemerintah saat ini sedang menata fondasi tersebut. Kan butuh waktu,”
ujarnya.
Dikatakan Sugiat, ketika pelayanan publik berjalan semakin baik dan manfaat program pemerintah semakin dirasakan masyarakat, tingkat kepercayaan publik juga akan meningkat dengan sendirinya.
Begitu pelayanan publik bergerak dijalankan maksimal dan dampak positifnya makin masif, kepercayaan publik tentu akan berlipat ganda,”
ungkapnya.
Meski hasil survei menunjukkan penurunan kepuasan publik, Sugiat menegaskan Gerindra tidak melihatnya sebagai ancaman politik. Sebaliknya, partainya memandang survei tersebut sebagai masukan yang harus dijadikan bahan evaluasi.
Partai Gerindra sama sekali tidak panik dengan penurunan atau dinamika angka survei,”
tegasnya.
Ia menambahkan, hasil survei justru menjadi pengingat bagi pemerintah agar mempercepat kinerja dan merespons aspirasi masyarakat melalui kebijakan yang lebih efektif.
Justru angka-angka ini kami baca secara jernih sebagai alarm pengingat dan aspirasi jujur dari masyarakat yang harus direspons dengan percepatan kinerja, bukan dengan kegelisahan politik,”
jelasnya.
Sugiat pun mengimbau seluruh pihak agar menyikapi hasil survei secara proporsional. Menurutnya, survei seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan dimanfaatkan untuk mengganggu fokus pemerintahan atau membangun opini politik jangka pendek.
Kami imbau semua pihak agar bijak melihat survei. Jangan sampai survei dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai alat untuk mendegradasi fokus kerja pemerintah atau sekadar membingkai opini publik demi kepentingan politik jangka pendek,”
tutup Sugiat.