Analis politik dan intelijen Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting menyoroti batalnya sembilan rencana demonstrasi di sejumlah titik di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurutnya, pembatalan aksi secara bersamaan dengan tuntutan yang berbeda-beda memunculkan dugaan adanya pihak yang mengorkestrasi gerakan tersebut, termasuk mengatur kapan aksi harus digelar, ditunda, hingga dibatalkan.
Demo pada tanggal 5 Agustus, hari Rabu tiba-tiba di 9 titik itu batal. Ada apa?”
kata Selamat Ginting yang dikutip dari podcast YouTube ForumkeadilanTV, Kamis, 13 Agustus 2026.
Dikatakannya, tuntutan yang dibawa dalam sembilan rencana aksi tersebut berbeda-beda, mulai dari isu korupsi hingga persoalan politik lainnya. Salah satu yang disorot berkaitan dengan dugaan kasus korupsi dan uang senilai Rp3,4 miliar.
Tuntutan-tuntutannya ini berbeda-beda, ada sembilan itu tadi kasus korupsi yang berkaitan dengan kasus uang 3,4 miliar. Ini menarik,”
ucapnya.
Meski perbedaan isu yang dibawa masing-masing kelompok justru memunculkan pertanyaan apakah seluruh aksi tersebut memiliki keterkaitan dengan agenda yang lebih besar.
Ia menduga, terdapat semacam pengatur yang mengorkestrasi berbagai rencana demonstrasi tersebut.
Jadi saya membaca kemungkinan ada dirijen yang mengorkestrasi demo-demo di Jakarta, dan saya khawatir tema-tema ini adalah tema-tema yang bukan utama sebenarnya. Tapi ini adalah tema sembilan yang kemungkinan nantinya bisa saja demo ini fokus pada satu isu utama,”
jelasnya.
Dikendalikan?
Ditegaskan Selamat, pola tersebut dinilai tidak biasa. Ia mempertanyakan kemungkinan adanya pihak tertentu yang memiliki kendali terhadap pergerakan massa, termasuk menentukan kapan aksi dilakukan atau dibatalkan.
Karena bagi saya aneh ini. Jadi saya menduga ada dirijen yang mengorkestrasi demo-demo ini untuk maju, untuk mundur, untuk batal,”
tegasnya.
Selamat kemudian merinci sembilan rencana aksi yang menurut catatannya batal pada 5 Agustus 2026:
1. Di Abdul Muis, Wisma BSG, terdapat rencana aksi demonstrasi yang kemudian dibatalkan.
2. Di depan Kementerian ESDM, Kebon Sirih, Forum Rakyat Bersuara Sumatera Selatan juga membatalkan rencana aksi.
3. Di depan Kemenko PMK RI, Jalan Merdeka Barat, Tim Pemburu Ijazah Jokowi sebelumnya merencanakan aksi, namun kemudian batal.
4. Di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Pemuda dan Mahasiswa Indonesia Timur se-Jakarta juga membatalkan rencana aksi.
5. Di kantor Kementerian BUMN dan Pertamina, Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat membatalkan rencana aksi yang telah direncanakan.
6. Di Kantor Pusat Bank Jakarta, Pergerakan Mahasiswa Peduli Hukum juga membatalkan rencana unjuk rasa.
7. Di Kantor Pusat TikTok di kawasan Thamrin, Perkumpulan Mahasiswa Antikorupsi turut membatalkan rencana aksi demonstrasi.
8. Di Gedung DPR-MPR, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia sebelumnya merencanakan aksi dengan tuntutan mengusut tuntas dan menangkap aktor dugaan kasus korupsi Febri Ariansyah. Aksi tersebut juga batal.
9. Di kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Gerakan Pemuda Mahasiswa Indonesia juga membatalkan rencana aksi.
Selamat menilai, kesamaan pola pembatalan tersebut perlu dicermati, terutama karena sembilan aksi memiliki isu dan kelompok penyelenggara yang berbeda.
Ia menduga kemungkinan terdapat koordinasi tertentu yang membuat aksi-aksi tersebut bergerak dalam pola yang sama.



















