Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Kabinet Bayangan, Feri Amsari menuding kemiskinan dan keterbelakangan di Papua bukan semata persoalan pembangunan yang belum terselesaikan, melainkan berkaitan dengan kepentingan oligarki dan kapitalis.
Menurutnya, Papua justru akan menjadi ancaman bagi kepentingan tersebut apabila masyarakatnya mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan yang baik serta memahami hak-haknya.
Itu sebabnya kalau bicara Papua tidak akan terjadi upaya membiarkan Papua dengan hak-haknya. Karena mencerdaskan Papua artinya oligarki dan kapitalis tidak bisa bekerja,”
kata Feri dalam acara uji kelayakan menteri kabinet bayangan di Universita Indonesia (UI), Kamis, 13 Agustus 2026.
Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat Papua, sambungnya, akan membuat warga semakin memahami hak-haknya.
Kondisi tersebut menurut Feri dapat mendorong masyarakat mempertanyakan pengelolaan sumber daya alam Papua yang selama ini dinilai lebih banyak menguntungkan kepentingan di luar daerah.
Kalau teman-teman kita di Papua dibiarkan dengan pendidikan baik, layanan kesehatan yang baik, mereka jadi paham apa hak-haknya,”
ucapnya.
Dikatakan Feri, kesadaran masyarakat Papua terhadap hak atas sumber daya alam juga berpotensi memunculkan pertanyaan mengenai dominasi pemerintah pusat dalam pengelolaan kekayaan daerah.
Ia menilai, persoalan tersebut berkaitan dengan sumber daya alam Papua yang menurutnya banyak dibawa keluar daerah.
Tentu mereka akan mempertanyakan dominasi Jakarta yang merusak alamnya dan kekayaan dibawa ke Jakarta,”
jelasnya.
Kebijakan di Bawah Pemilik Modal
Feri kemudian menilai persoalan Papua tidak akan mengalami perubahan mendasar selama kebijakan negara masih berada di bawah pengaruh para pemilik modal.
Sampai mati pun, kalau negara ini dipimpin oleh para pemilik modal, tidak akan pernah ada perbaikan untuk Papua,”
tegasnya.
Feri bahkan secara tegas menyebut kondisi kemiskinan Papua sebagai sesuatu yang disengaja. Ia kemudian mengaitkan kritik tersebut dengan pilihan politik masyarakat dalam menentukan pemimpin nasional.
Jadi, Papua disengaja miskin. Makanya jangan pilih Prabowo. Cukup konkret, kan?”
tutup Feri.



















