Kebersamaan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam momentum HUT RI ke-81 dinilai menunjukkan hubungan politik yang tetap cair.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago mengatakan tidak terlihat ada jarak mencolok antara Prabowo dan Jokowi saat mereka duduk bersebelahan.
Kalau melihat momen, tidak terlihat jarak yang mencolok antara Prabowo dan Jokowi. Mereka bisa berbincang dan menikmati acara bersama,”
kata Arifiki kepada Owrite.id, Selasa, 18 Agustus 2026.
Arifki mengatakan kebersamaan tersebut menjadi menarik karena mempertemukan tiga figur yang memiliki posisi politik penting saat ini: Jokowi sebagai mantan presiden, Prabowo sebagai presiden, dan Gibran sebagai wakil presiden.
Jangan Spekulasi Dini
Namun, ia mengingatkan satu momen tidak cukup untuk menjadi dasar menarik kesimpulan mengenai keseluruhan hubungan politik mereka.
Hubungan hubungan antara Jokowi dan Prabowo menunjukkan bahwa rivalitas politik tidak selalu berlanjut menjadi pertentangan permanen. Dinamika politik dapat berubah mengikuti kepentingan dan perkembangan situasi.
Ini menunjukkan bahwa hubungan politik bisa berubah mengikuti dinamika dan kepentingan yang berkembang. Rivalitas elektoral tidak selalu berarti hubungan personal atau politik harus terus berseberangan,”
ucap dia.
Kemunculan mereka dalam satu acara juga memiliki nilai komunikasi politik. Sebuah gambar atau momen kebersamaan dapat membentuk persepsi publik mengenai kedekatan para tokoh, tetapi persepsi tetap harus dibaca beriringan dengan konteks politik yang lebih luas.
Dalam komunikasi politik, sebuah frame bisa membentuk persepsi, tetapi persepsi itu tetap perlu dibaca bersama konteks yang lebih luas,”
jelas dia.
Posisi ketiga tokoh tersebut membuat kebersamaan yang memiliki bobot politik tersendiri.
Jokowi merupakan mantan presiden, Prabowo menjabat presiden, sementara Gibran merupakan wakil presiden yang juga merupakan putra Jokowi.
Jokowi merupakan mantan Presiden, Prabowo Presiden saat ini, sementara Gibran adalah Wakil Presiden. Satu frame ini mempertemukan tiga posisi politik dalam satu momentum,”
ujar dia.
Ada Konsekuensi?
Namun, Arifki mengingatkan publik tidak perlu terburu-buru mengaitkan kebersamaan tersebut dengan konfigurasi politik Pemilu 2029. Terlalu dini jika satu momentum dijadikan rencana koalisi ataupun pasangan politik tertentu.
Apakah itu memiliki konsekuensi politik lebih jauh? Tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan. Publik masih terlalu jauh (menyimpulkan) kalau menjadikan satu momen sebagai indikasi koalisi atau pasangan politik 2029,”
beber Arifki.
(Hal) yang bisa dikatakan saat ini adalah hubungan komunikasi antara Jokowi dan Prabowo terlihat tetap cair,”
sambung dia.
Publik cukup membaca pesan yang terlihat dari kebersamaan tersebut tanpa menarik spekulasi terlalu jauh.
Karena itu, saya melihat momen ini sebagai kode komunikasi yang baik, bukan kesimpulan politik. Apakah kedekatan tersebut akan berlanjut dan memiliki implikasi terhadap konfigurasi politik ke depan? Tentu akan terlihat dari perkembangan politik berikutnya,”
tutur Arifki.
Untuk saat ini, publik cukup membaca apa yang terlihat tanpa perlu menarik kesimpulan terlalu jauh,”
tutup dia.





















