Keputusan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) turun langsung ke lokasi gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai memiliki makna politik lebih dalam dari sekadar agenda kemanusiaan.
Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli, menyebut langkah tersebut sebagai strategi halus untuk merangkul kelompok mahasiswa yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.
Pola Gibran dengan mengajak mahasiswa turun ke lokasi bencana NTT adalah strategi menundukkan mahasiswa paling halus,”
katanya kepada Owrite, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Nasarudin, mahasiswa memiliki posisi unik dalam kehidupan demokrasi karena dapat berfungsi sebagai kekuatan kontrol terhadap pemerintah.
Mengawasi jadi Menyaksikan
Karena itu, ketika kelompok mahasiswa justru diajak masuk dan terlibat langsung dalam agenda kemanusiaan pemerintah, terjadi perubahan posisi dari pihak yang mengawasi menjadi pihak yang ikut menyaksikan kerja pemerintah dari dekat.
Dikatakan Nasarudin, mahasiswa yang dilibatkan dalam agenda tersebut membawa nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar dukungan material. Mereka membawa legitimasi moral yang tidak mudah dibangun hanya dengan menggunakan anggaran negara.
Mereka membawa sesuatu yang tak bisa dibeli anggaran negara, yaitu legitimasi moral,”
ucapnya.
Dijelaskan Nasarudin, pendekatan semacam itu justru lebih efektif dibandingkan menghadapi kritik mahasiswa dengan tekanan.
Dalam perspektif politik kekuasaan, kata dia, merangkul kelompok yang berpotensi menjadi oposisi dapat membuat resistensi perlahan kehilangan daya kritisnya.
Dalam pemikiran kekuasaan, yang paling awet bukan yang menindas perlawanan, melainkan yang merangkulnya hingga perlawanan berhenti merasa sebagai perlawanan,”
jelasnya.
Nasarudin menyebut pelibatan mahasiswa dalam kegiatan pemerintah dapat dibaca sebagai bentuk kooptasi yang berlangsung secara halus.
Menurutnya, kelompok yang sebelumnya berada di luar lingkar kekuasaan justru diberikan akses untuk melihat, merasakan, dan terlibat langsung dalam kegiatan pemerintah.
Pengawasan dari luar diundang masuk, lalu kehilangan taringnya. Inilah kooptasi dalam bentuk paling sopan, dibungkus sebagai pelibatan,”
terangnya.
Modal Politik
Ia mengatakan kunjungan langsung ke lokasi bencana juga menghasilkan dua jenis modal politik. Pertama adalah modal simbolik melalui kehadiran pejabat negara di tengah masyarakat.
Kedua adalah modal sosial yang muncul ketika masyarakat merasakan kehadiran dan perhatian pemerintah.
Kehadiran fisik adalah modal simbolik, kepercayaan warga adalah modal sosial, dan keduanya bisa ditukar menjadi modal politik saat kontestasi tiba,”
ungkapnya.
Ditambahkan Nasarudin, pola komunikasi politik Gibran juga terlihat dari pendekatan yang menempatkan aspirasi masyarakat sebagai bahan kerja pemerintah.
Ia mencontohkan kanal “Lapor Mas Wapres” sebagai bentuk pelayanan langsung yang dapat membangun hubungan antara pejabat dan masyarakat di luar struktur partai politik.
Setiap kunjungan adalah setoran. ‘Lapor Mas Wapres’ adalah mesin yang Morris Fiorina sebut casework, layanan konkret yang melahirkan loyalitas di luar garis partai,”
ujar Nasarudin.
Dalam konteks kunjungan mahasiswa UI ke NTT, Nasarudin melihat ada kombinasi antara agenda kemanusiaan, pelibatan kelompok kritis, dan pembangunan kepercayaan publik.
Ia menilai pertemuan langsung dengan korban bencana memberikan pengalaman politik yang berbeda dibandingkan sekadar menerima informasi melalui media atau laporan pemerintah.




















