Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menilai Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, berpotensi memiliki agenda untuk mengikuti kontestasi Pilpres 2029.
Penilaian itu dikaitkan Fernando dengan pertemuan Sjafrie bersama sejumlah pimpinan partai politik pada 2025 serta masuknya nama Sjafrie dalam bursa bakal calon presiden berdasarkan survei Indonesian Public Institute (IPI).
Sepertinya ada agenda Sjafrie untuk ikut dalam kontestasi pilpres 2029 sehingga melakukan safari bertemu ketum partai politik di tahun lalu,”
katanya Emas kepada Owrite, Jumat, 2 Oktober 2026.
Fernando menjelaskan, pertemuan Sjafrie dengan elite partai politik memang terjadi pada Oktober 2025. Pada Rabu, 15 Oktober 2025, Sjafrie menerima Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, di Kementerian Pertahanan.
Dua hari kemudian pada Jumat, 17 Oktober 2025, Sjafrie juga menerima sejumlah elite PKS di kantor yang sama. Pertemuan tersebut diberitakan sebagai bagian dari komunikasi terkait isu kebangsaan dan pertahanan.
Hasil Survei
Fernando kemudian menyoroti masuknya nama Sjafrie dalam survei IPI yang dirilis pada Februari 2026. Berdasarkan hasil survei tersebut, Sjafrie berada di urutan ketujuh dalam bursa bakal capres 2029 dengan elektabilitas 7,5 persen. Survei itu dilakukan terhadap 1.241 responden di 35 provinsi pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026.
Selain itu, masuknya nama Sjafrie Sjamsuddin pada bursa capres berdasarkan lembaga survei akan mengukuhkan keinginan untuk bisa menjadi peserta kontestasi pilpres yang akan datang,”
jelasnya.
Fernando menilai kemunculan Sjafrie dalam bursa bakal capres tersebut menjadi salah satu pertimbangan yang menurutnya perlu diperhatikan dalam mengevaluasi posisi Sjafrie sebagai Menteri Pertahanan. Ditegaskannya, aktivitas politik tidak semestinya berbenturan dengan tugas pemerintahan.
Sehingga lebih tepat kalau Sjafrie dibebastugaskan dari kabinet sehingga tidak akan menjadi duri dalam daging bagi Prabowo Subianto,”
ucapnya.
Fernando juga mengaitkan kemungkinan pergantian Sjafrie dengan penilaiannya mengenai hubungan politik antara Sjafrie dan Prabowo. Ada kemungkinan Presiden menilai Sjafrie tidak lagi sejalan dengan arah pemerintahannya.
Kalau Sjafrie terkena reshuffle, tentu karena Prabowo melihat bahwa Sjafrie sudah tidak sejalan lagi dan dianggap melakukan manuver yang membuat pemerintahan Prabowo mendapatkan sorotan dari publik serta memberikan dampak tidak baik,”
ujarnya.
Meski demikian, masuknya nama Sjafrie dalam survei IPI tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya deklarasi atau keputusan Sjafrie untuk maju dalam Pilpres 2029.
IPI menyatakan Sjafrie masuk dalam 10 besar tokoh yang diukur dalam survei tersebut, sementara hasil survei merupakan pengukuran elektabilitas pada periode penelitian, bukan deklarasi pencalonan.







