Pergeseran kekuatan politik di pemerintahan dinilai dapat mendorong elite mengubah arah dukungan dan loyalitas. 

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Henri Subiakto menyebut hubungan politik sangat dipengaruhi kalkulasi kepentingan dan keamanan posisi di masa depan.

“Makna politiknya adalah tidak ada teman abadi. Tidak ada pula patron politik abadi. (Hal) yang ada hanyalah kepentingan untuk mendapat keuntungan dan posisi yang lebih aman,”

kata Henri yang dikutip dari akun X-nya, Senin, 5 Oktober 2026.

Pilih Kekuatan

Dia menjelaskan perubahan loyalitas politik merupakan konsekuensi ketika muncul kekuatan baru yang dianggap memiliki posisi lebih kuat. Elite dapat mengubah haluan dan memilih mendekat kepada kelompok yang dipandang memiliki masa depan politik lebih menjanjikan.

“Di situlah mengapa orang sering pindah loyalitas. Sering berubah haluan politik jadi ikut kelompok, atau pihak penguasa baru,”

ucap dia.

Menurut Henri perpindahan tersebut bukan semata-mata didorong faktor personal, melainkan kalkulasi untuk menentukan posisi politik yang dianggap paling menguntungkan ke depan.

“Karena tak lain didasari kalkulas- kalkulasi kepentingan tertentu untuk masa depan,”

ucap dia.

Bertahan

Namun, Henri menilai tidak semua orang akan mudah meninggalkan kekuatan lama. Sebagian masih bertahan karena terlalu terikat secara politik dengan kekuatan sebelumnya.

“(Hal) yang masih bertahan adalah mereka yang sudah sulit untuk berubah secara politik. Sudah telanjur terjebak terlalu dalam. Tersandera,”

tutur dia.

Ia kemudian menggambarkan sebagian pihak yang masih bertahan pada kekuatan lama seperti orang yang masih menunggu kemungkinan kembalinya pengaruh politik sebelumnya.

“Atau masih berharap matahari lama itu punya keajaiban bisa bersinar kembali dari arah barat,”

kata Henri.