Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai aktivitas politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapat menjadi bagian dari upaya membangun posisi tawar menghadapi Pilpres 2029.
Menurut Arifki, konsolidasi Jokowi melalui PSI berpotensi berkaitan dengan masa depan politik Gibran Rakabuming Raka maupun posisi politik Jokowi sendiri.
Saya kira soal PSI itu adalah bargaining Jokowi saja untuk Pilpres 2029. Apakah untuk Gibran atau pun posisi politiknya,”
kata Arifki saat dihubungi Owrite, Senin, 5 Oktober 2026.
Di sisi lain, Arifki menilai dinamika hubungan Prabowo dan Jokowi tidak bisa dilepaskan dari perubahan komposisi pemerintahan.
Ia menyebut, pergantian Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Menko-PMK Pratikno dari posisi strategis pemerintahan dapat dibaca sebagai bagian dari upaya Prabowo membangun struktur kekuasaan yang lebih mandiri.
Ya soal keretakan tak bisa dihindari, dengan digantinya Kapolri dan Pratikno secara tak langsung Prabowo sedang membangun kabinetnya sendiri,”
ucapnya.
Pergantian yang dimaksud terjadi pada Kamis, 1 Oktober 2026. Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo, sementara Sugiono dilantik sebagai Menko PMK menggantikan Pratikno.
Arifki menilai, langkah Prabowo membangun kekuatan politik sendiri merupakan sesuatu yang wajar, terutama ketika memasuki fase persiapan menuju 2029.
Saya kira Prabowo mau membangun kekuatan politiknya sendiri itu wajar,”
terangnya.
Namun, Arifki tidak serta-merta menyebut langkah tersebut sebagai bentuk Prabowo menjauh dari Jokowi. Menurutnya, Prabowo lebih tepat dilihat sedang membuka berbagai opsi politik untuk menghadapi konfigurasi 2029.
Menjauh mungkin tidak, tapi Prabowo membuka opsi alternatif di 2029 dengan membuka banyak kemungkinan di 2029,”
jelasnya.
Arifki melanjutkan, ketika dominasi jaringan Jokowi dalam konfigurasi politik Prabowo berkurang, ruang bagi masuknya kekuatan politik lain juga semakin terbuka. Ia menyebut sejumlah nama, mulai dari PDIP, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Anies Baswedan.
Sehingga, dengan tak lagi dominan Jokowi, tentu blok politik lain akan mendekat ke Prabowo, misalnya PDIP, SBY, atau Anies,”
tutupnya.







