Pergeseran Pratikno dari posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dianggap memiliki makna politik lebih luas.
Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komaruddin menyebut pergeseran figur itu dapat menjadi bagian dari konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.
“Digeser ke Wantimpres, Pak Prabowo ingin menggeser ke tempat lain,”
kata Ujang kepada Owrite.id, Selasa, 6 Oktober 2026.
Dia menilai pergeseran Pratikno dapat dibaca lebih jauh sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan dan politik yang sedang dilakukan Prabowo.
“Bisa jadi bahwa ini adalah konsolidasi kekuasaan, konsolidasi politik, yang dilakukan Pak Prabowo agar Pak Prabowo ini betul-betul menjadi real Presiden,”
ucap dia.
Pratikno tidak sepenuhnya keluar dari pemerintahan. Sehari setelah reshuffle, 2 Oktober 2026, Prabowo mengangkatnya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pengangkatan tersebut tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026.
Orang Penting
Pratikno memang memiliki posisi penting dalam pemerintahan Jokowi. Ia menjabat Menteri Sekretaris Negara pada pemerintahan Jokowi sebelum kemudian masuk kabinet Prabowo sebagai Menko PMK. Pada 2024, Pratikno tercatat sebagai salah satu menteri dalam Kabinet Merah Putih.
Ujang mengatakan kondisi tersebut menjadi bagian dari persepsi publik yang selama ini melihat masih ada pengaruh Jokowi dalam pemerintahan Prabowo.
“(Hal) yang selama ini dikritik oleh publik karena masih ada bayang-bayang Jokowi,”
ujar Ujang.
Bagi Ujang, pergeseran sejumlah posisi dalam perombakan kabinet dapat menjadi sinyal bahwa Prabowo sedang memperkuat kendali politik.
“Pak Prabowo membuktikan dengan pergeseran, bisa jadi itu bagian daripada konsolidasi politik dan di saat yang sama Pak Prabowo (menunjukkan) agar menjadi betul-betul real Presiden,”
tutup Ujang.






