Reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, dinilai mulai menunjukkan pergeseran kekuatan politik dari era pemerintahan sebelumnya.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Prof. Henri Subiakto, menyebut perubahan tersebut belum menunjukkan pemutusan total dengan kekuatan lama, tetapi tanda-tanda munculnya pusat kekuatan baru semakin terasa.
Walau belum terang benderang, karena masih berwujud pergeseran-pergeseran. Belum berarti adanya pemutusan total dengan kekuatan lama,”
tulis Prof. Henri Subiakto yang dikutip dari akun X pribadinya, Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurutnya, konfigurasi politik akan semakin berubah seiring menguatnya posisi kekuasaan baru. Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti matahari baru yang perlahan menggantikan matahari lama.
Tapi tanda-tanda matahari baru lebih bersinar terang dari pada matahari yang kemarin sudah tenggelam, maka perubahan itu akan makin terasa dan makin nyata,”
ujarnya.
Gravitasi Politik
Dijelaskan Prof. Henri, perubahan pusat gravitasi politik biasanya diikuti oleh penyesuaian sikap dari masyarakat maupun elite. Mereka cenderung mendekat kepada kekuatan yang dinilai memiliki posisi lebih kuat dan prospek politik lebih pasti.
Dalam kultur sosial politik di Indonesia. Biasanya masyarakat dan elit itu akan menyesuaikan diri dengan cara lebih mendekat pada penguasa baru, atau kekuatan baru yang “sinarnya lebih terang”, dari pada Matahari yang sudah tenggelam,”
jelasnya.
Ia menilai, kekuatan politik yang semakin kokoh secara alamiah memiliki daya tarik lebih besar untuk mengumpulkan dukungan.
Sebaliknya, kekuatan lama yang struktur kekuasaannya mulai melemah akan menghadapi persoalan dalam mempertahankan pengaruhnya.
Secara natural kekuatan yang lebih kuat dan lebih pasti, tentu akan memiliki gravitasi politik yang lebih kuat dalam menarik dukungan dari pada penguasa yang sudah usang dan melemah struktur kekuasaannya, serta ketahuan kerusakan dan belang aib yang ditinggalkan,”
tutupnya.
Sebagaimana diketahui, dalam reshuffle 1 Oktober kemarin Presiden Prabowo mengganti Pratikno dengan Sugiono sebagai Menko PMK dan menunjuk Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri.
Di sektor kepolisian, Suyudi Ario Seto menggantikan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri, sementara Listyo dipindahkan menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP).







