Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Ujian Soliditas Prabowo: Kursi Cawapres 2029 dan Potensi Koalisi Pecah Kongsi

Situasi menjelang Pilpres 2029 akan menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah menjaga keselarasan di tengah persaingan politik yang menguat.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) bersama Menko PMK Sugiono (ketiga kanan), Menko Infra Agus Harimurti Yudhoyono (tengah), Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra (ketiga kiri), Menko Polkam Dudung Abdurachman (kedua kiri), Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri), dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kedua kanan) menghadiri pelantikan wakil menteri serta kepala dan wakil kepala badan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) bersama Menko PMK Sugiono (ketiga kanan), Menko Infra Agus Harimurti Yudhoyono (tengah), Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra (ketiga kiri), Menko Polkam Dudung Abdurachman (kedua kiri), Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri), dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kedua kanan) menghadiri pelantikan wakil menteri serta kepala dan wakil kepala badan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.)

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago mengatakan soliditas koalisi pendukung Presiden Prabowo Subianto berpotensi menghadapi ujian menjelang Pilpres 2029. 

Dia berpendapat kesamaan kepentingan dalam pemerintahan saat ini belum tentu bertahan ketika partai dan tokoh politik mulai menghitung peluang untuk menentukan konfigurasi kepemimpinan nasional tiga tahun mendatang.

“Ada kepentingan jangka pendek dalam pemerintahan, tetapi ada juga kalkulasi jangka panjang terkait kepemimpinan nasional pada 2029,”

kata Arifki kepada Owrite.id, Senin, 19 Oktober 2026.

Perebutan Bangku

Salah satu titik yang berpotensi memunculkan perbedaan kepentingan adalah penentuan calon wakil presiden. Posisi tersebut, lanjut dia, hanya tersedia bagi satu orang dalam satu pasangan calon, sehingga persaingan di antara tokoh-tokoh yang berambisi dapat memengaruhi hubungan antarkekuatan dalam koalisi.

Iklan

“Pada akhirnya, posisi calon wakil presiden hanya tersedia untuk satu orang dalam satu pasangan calon. Di situlah kepentingan politik bisa saling berhadapan,”

ujar dia.

Arifki menilai kerja sama yang terjalin di pemerintahan tidak otomatis membuat seluruh partai dan tokoh memiliki pilihan yang sama untuk kontestasi selanjutnya. Masing-masing pihak tetap memiliki kepentingan dan perhitungan politik yang dapat berubah seiring mendekatnya pemilu.

“Mereka yang hari ini bekerja sama belum tentu memiliki pilihan yang sama ketika menentukan konfigurasi kekuasaan berikutnya,”

jelas dia.

Konsistensi

Tantangan Prabowo bukan sekadar merangkul banyak kekuatan politik, melainkan memastikan kerja sama tersebut menghasilkan dukungan yang konsisten terhadap agenda pemerintahan. Akomodasi politik perlu melampaui pembagian posisi dan ruang kekuasaan.

“Tantangan Prabowo adalah memastikan akomodasi tidak berhenti pada pembagian ruang kekuasaan, melainkan menghasilkan dukungan konsisten terhadap agenda pemerintahan,”

terang dia.

Ketahanan koalisi baru benar-benar terlihat ketika kepentingan politik para anggota mulai bergerak ke arah berbeda. Situasi menjelang Pilpres 2029 akan menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah menjaga keselarasan di tengah persaingan politik yang menguat.

“Keberhasilan konsolidasi yang sesungguhnya akan terlihat ketika kepentingan politik mulai berbeda arah menuju 2029,”

tutup dia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.