Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Dinamika Prabowo-Jokowi: Kinerja Pemerintahan Lebih Penting daripada Kedekatan Elite

Stabilitas yang hanya terlihat dalam hubungan antarelite belum cukup apabila tidak diikuti hasil yang dirasakan masyarakat.

Foto Jokowi Dodo dan Prabowo Subianto
Foto Jokowi Dodo dan Prabowo Subianto/Doc. Owrite/Acel

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai efektivitas pemerintahan dan manfaat kebijakan bagi masyarakat seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam membaca dinamika politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo. 

Pembahasan politik tidak semestinya hanya berkutat pada siapa yang dekat atau menjauh dari pusat kekuasaan.

“(Hal) yang lebih penting adalah bagaimana setiap aktor memainkan peran dan bagaimana arah politik itu berdampak pada jalannya pemerintahan,”

kata Arifki kepada Owrite.id, Kamis, 22 Oktober 2026.

Pengaruh

Dia berpendapat perubahan posisi dan peran aktor politik tidak selalu mencerminkan hilangnya pengaruh. Dalam dinamika pemerintahan, peran seseorang dapat berubah mengikuti strategi, kebutuhan, serta prioritas yang sedang dijalankan.

Iklan

Arifki menggambarkan kondisi tersebut melalui analogi sepak bola. Menurut dia, pemain yang tidak masuk susunan utama belum tentu kehilangan kualitas karena keputusan pelatih juga dipengaruhi strategi tim.

“Dalam sepak bola, pemain hebat pun bisa duduk di bangku cadangan. Bukan berarti kualitas hilang, tetapi strategi tim menentukan kapan ia dibutuhkan,”

ucap dia.

Analogi itu juga dapat digunakan untuk memahami dinamika politik. Posisi seorang tokoh pada satu periode tidak otomatis menentukan pengaruh maupun peran pada periode berikutnya.

“Dalam politik, posisi hari ini juga tidak otomatis menentukan peran seseorang pada masa mendatang,”

tutur dia.

Spekulasi

Maka, Arifki mengingatkan agar perhatian publik tidak tersedot oleh spekulasi mengenai kedekatan antarelite.  Bagi dia, perdebatan mengenai siapa yang sedang akrab atau menjauh dari kekuasaan tidak cukup untuk menjelaskan arah pemerintahan.

“Pada akhirnya, publik tidak cukup membutuhkan tontonan tentang siapa dekat dengan siapa dan siapa sedang menjauh dari siapa,”

jelas Arifki.

Stabilitas politik perlu dinilai berdasarkan kemampuan mendukung jalannya pemerintahan dan pelaksanaan kebijakan. Stabilitas yang hanya terlihat dalam hubungan antarelite belum cukup apabila tidak diikuti hasil yang dirasakan masyarakat.

“Publik membutuhkan pemerintahan yang efektif. Sebab, stabilitas politik baru benar-benar berarti ketika mampu menghasilkan kebijakan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,”

kata dia.

Dengan demikian, dinamika politik di sekitar Prabowo dan Jokowi perlu dicermati tidak hanya melalui simbol kedekatan atau perubahan posisi masing-masing tokoh. 

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.