Arifki menggambarkan kondisi tersebut melalui analogi sepak bola. Menurut dia, pemain yang tidak masuk susunan utama belum tentu kehilangan kualitas karena keputusan pelatih juga dipengaruhi strategi tim.
“Dalam sepak bola, pemain hebat pun bisa duduk di bangku cadangan. Bukan berarti kualitas hilang, tetapi strategi tim menentukan kapan ia dibutuhkan,”
ucap dia.
Analogi itu juga dapat digunakan untuk memahami dinamika politik. Posisi seorang tokoh pada satu periode tidak otomatis menentukan pengaruh maupun peran pada periode berikutnya.
“Dalam politik, posisi hari ini juga tidak otomatis menentukan peran seseorang pada masa mendatang,”
tutur dia.
Spekulasi
Maka, Arifki mengingatkan agar perhatian publik tidak tersedot oleh spekulasi mengenai kedekatan antarelite. Bagi dia, perdebatan mengenai siapa yang sedang akrab atau menjauh dari kekuasaan tidak cukup untuk menjelaskan arah pemerintahan.
“Pada akhirnya, publik tidak cukup membutuhkan tontonan tentang siapa dekat dengan siapa dan siapa sedang menjauh dari siapa,”
jelas Arifki.
Stabilitas politik perlu dinilai berdasarkan kemampuan mendukung jalannya pemerintahan dan pelaksanaan kebijakan. Stabilitas yang hanya terlihat dalam hubungan antarelite belum cukup apabila tidak diikuti hasil yang dirasakan masyarakat.
“Publik membutuhkan pemerintahan yang efektif. Sebab, stabilitas politik baru benar-benar berarti ketika mampu menghasilkan kebijakan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,”
kata dia.
Dengan demikian, dinamika politik di sekitar Prabowo dan Jokowi perlu dicermati tidak hanya melalui simbol kedekatan atau perubahan posisi masing-masing tokoh.