Elektabilitas PSI Mandek, Kaesang Bakal Digeser Jokowi Sebagai Ketum?
Menurutnya, Jokowi memiliki daya tarik kuat di kalangan sebagian kader, sementara kepemimpinan saat ini yang dipegang oleh Kaesang dinilai belum mampu meningkatkan elektabilitas partai.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengatakan Presiden Indonesia ke-7 Joko Widodo (Jokowi) berpeluang menggantikan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Menurutnya, Jokowi memiliki daya tarik kuat di kalangan sebagian kader, sementara kepemimpinan saat ini yang dipegang oleh Kaesang dinilai belum mampu meningkatkan elektabilitas partai.
Keinginan kader PSI itu tampaknya logis. Sebab bagi kebanyakan kader PSI, Jokowi itu ya PSI dan PSI itu ya Jokowi. Jadi, Jokowi memang sangat diidolakan oleh sebagian kader PSI. Bahkan Jokowi dianggap role model di internal PSI,”
kata Jamiluddin kepada Owrite, Jumat, 23 Oktober 2026.
Jamiluddin menilai, tingginya penerimaan sebagian kader terhadap Jokowi membuat peluang mantan Presiden ke-7 RI itu untuk menggantikan Kaesang semakin terbuka.
Iklan
Karena itu, peluang Jokowi menggantikan Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum PSI memang sangat besar. Sebab, penerimaan kader PSI terhadap Jokowi sangat tinggi,”
ucapnya.
Dikatakan Jamiluddin, kebutuhan akan kepemimpinan baru berkaitan dengan upaya PSI meningkatkan dukungan elektoral menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) mendatang.
Ia menilai, elektabilitas partai belum menunjukkan peningkatan selama dipimpin Kaesang, termasuk setelah Ahmad Ali ditetapkan sebagai ketua harian.
Selain itu, PSI memang perlu nahkoda baru untuk mendongkrak elektoralnya. Sebab, selama dipimpin Kaesang elektabilitas PSI bukan meningkat tapi justru menurun. Bahkan setelah ditetapkan Ketua harian PSI Ahmad Ali, elektoral partai juga tidak membaik,”
jelasnya.
Atas dasar itu, Jamiluddin mempertanyakan kemampuan Kaesang dan Ahmad Ali dalam membawa PSI mencapai target politik, terutama menembus parlemen nasional pada Pemilu 2029.
Karena itu, Kaesang dan Ahmad Ali dinilai bukan sosok yang pas menahkodai PSI, terutama untuk mengantarkan PSI ke Senayan pada Pileg mendatang,”
tegasnya.
Jamiluddin juga menilai, Jokowi memiliki daya tarik politik yang lebih besar dibandingkan kader PSI lainnya.
Buat dia, figur yang memiliki daya tarik kuat dibutuhkan partai untuk menggaet suara pemilih dan memperbesar dukungan.
Jadi, dari kader PSI yang ada saat ini, memang hanya Jokowi yang punya marwah untuk memimpin partai berlogo gajah tersebut. Kader lain suka tidak suka memang tidak memiliki nilai jual untuk menggaet suara dan membesarkan PSI,”
pungkasnya.
Meski demikian, peluang Jokowi menjadi ketua umum masih perlu dibedakan dari keputusan resmi partai. Perkembangan internal PSI menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai aspirasi tersebut.
Pilihan Editor · Hadi Febriansyah dan Amin Suciady ·