Peringatan Keras Dasco soal Ancaman Geopolitik dan Karhutla
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyerukan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah ketidakpastian geopolitik dunia dan berbagai ancaman di dalam negeri, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
Petugas Manggala Agni Daops Sumatera XII Muara Tebo memadamkan api yang membakar lahan penyangga Taman Hutan Raya (Tahura) Orang Kayo Hitam (OKH), Desa Gedong Karya, Muaro Jambi, Jambi, Senin (19/10/2026). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/nym.)
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah ketidakpastian geopolitik dunia dan berbagai ancaman di dalam negeri, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ia menegaskan, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama dalam pengambilan keputusan negara yang tepat, cepat, dan adil. Hal itu disampaikan Dasco dalam pidato peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Karena itu, persatuan tidak boleh berhenti menjadi semboyan. Ia harus menjelma menjadi kemampuan negara dalam mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan adil,”
kata Dasco.
Menurut Dasco, semangat persatuan yang ditunjukkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 tetap relevan untuk menghadapi tantangan zaman.
Iklan
Saat itu, para pemuda dari berbagai daerah, suku, dan organisasi mampu menempatkan cita-cita bangsa di atas kepentingan kelompok meski memiliki latar belakang berbeda.
Itulah keberanian politik generasi 1928: menempatkan cita-cita bangsa di atas batas kelompok. Dan keberanian semacam itu kembali dituntut dari kita hari ini,”
ujarnya.
Dasco menilai, tantangan Indonesia saat ini tidak terlepas dari perkembangan situasi global. Ketegangan geopolitik dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari harga energi dan biaya pengangkutan hingga rantai pasok dan inflasi yang akhirnya memengaruhi kehidupan masyarakat.
Dunia saat ini sedang bergerak dalam ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi. Ketegangan di Timur Tengah merambat jauh melampaui wilayah konflik ke harga energi, biaya pengangkutan, rantai pasok, inflasi, dan akhirnya ke dapur keluarga Indonesia,”
Selain ketegangan internasional, Dasco menyoroti persaingan kekuatan besar, perebutan teknologi, dan perubahan arah perdagangan dunia.
Dikatakan dia, perkembangan tersebut dapat mempersempit ruang gerak negara yang tidak memiliki kesiapan menghadapi perubahan.
Persaingan kekuatan besar, perebutan teknologi, serta perubahan arah perdagangan dunia mempersempit ruang bagi negara yang tidak siap,”
tuturnya.
Di kawasan Asia Tenggara, Dasco mengingatkan sejumlah tantangan keamanan yang perlu diantisipasi bersama.
Dinamika Laut Cina Selatan, keamanan pelayaran, kejahatan lintas batas, hingga ancaman siber menjadi ujian bagi ketahanan negara-negara ASEAN.
Belum lagi perang proxy, disinformasi, dan tekanan ekonomi yang dapat menggerus persatuan tanpa satu tembakan pun dilepaskan,”
ungkapnya.
Dasco juga menyoroti ancaman karhutla, asap lintas batas, banjir, dan cuaca ekstrem yang berdampak pada keselamatan masyarakat.
Ia menilai persoalan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga keamanan nasional dan melindungi rakyat.
Bencana kebakaran hutan dan lahan, asap lintas batas, banjir, cuaca ekstrem, serta ancaman pangan memperlihatkan bahwa keselamatan rakyat dan keamanan negeri kini saling bertaut,”
terangnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Dasco menekankan pentingnya mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Menurut dia, Indonesia harus mampu menjaga kedaulatan tanpa menutup diri terhadap kerja sama dengan negara lain.
Indonesia harus tetap teguh pada politik luar negeri bebas aktif. Kita tidak menjadi perpanjangan tangan kepentingan negara mana pun, tetapi tidak pula menutup pintu kerja sama,”
tegasnya.
Dasco juga mengingatkan bahwa persatuan perlu dijaga di tengah perbedaan politik. Perbedaan partai, fraksi, maupun daerah pemilihan tidak boleh menjadi penghalang ketika kepentingan konstitusi dan keselamatan bangsa membutuhkan kebersamaan.
Asal partai, fraksi, atau daerah pemilihan bukan alasan untuk menolak berdiri bersama ketika konstitusi dan keselamatan bangsa menuntutnya,”
terangnya.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda dengan menjaga persatuan sekaligus berani memperbaiki kekurangan negara.
Cinta tanah air bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru karena mencintai negeri ini, kita harus berani memperbaikinya,”