Objek sengketa dalam perkara itu adalah Surat Keterangan Nomor 9149/D.D1/KS/2019 tertanggal 6 Agustus 2019 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen.
Dalam amar putusan, MA menyatakan surat keterangan tersebut tidak sah dan batal demi hukum serta memerintahkan agar dokumen itu ditarik untuk dimusnahkan. Putusan ini berkaitan dengan keabsahan surat keterangan penyetaraan pendidikan, bukan keputusan yang secara langsung memberhentikan Gibran dari jabatan wakil presiden.
Tidak Layak
Akbar kemudian menyampaikan bahwa persoalan tersebut bukan hanya menyangkut Gibran, tetapi juga menjadi perhatian publik. Ia menggunakan ungkapan keras untuk menggambarkan kritiknya terhadap posisi Gibran sebagai orang nomor dua di Indonesia.
“Cukup sudah. Bukan hanya @gibran_tweet. Kami pun ikut tersiksa melihat penderitaan dia menanggung beban ketakcakapan dan ketaklayakan sebagai Wapres,”
ucap Akbar.
Ia secara langsung meminta Jokowi menerima kritik tersebut dan mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap Gibran. Akbar juga menyebut masih banyak anak bangsa lain yang pantas untuk berkontribusi bagi masa depan Indonesia.
“Pak @jokowi, anakmu tak layak. Carilah anak negeri lainnya yang pantas untuk Saudara usung jika memang bermaksud berkontribusi pada masa depan bangsa ini,”
ujar dia.
Selain mempersoalkan posisi Gibran, Akbar turut menyinggung polemik ijazah. Ia melontarkan tudingan mengenai dugaan manipulasi kewenangan dalam persoalan dokumen pendidikan tersebut.
“Seluruh perangkat negara telah memutuskan ijazah anakmu hasil manipulasi kewenangan,”
lanjut dia.
Akhiri Saja
Akbar menegaskan bahwa polemik ijazah bukan satu-satunya persoalan yang menjadi dasar kritiknya. Ia menyebut penilaiannya terhadap Gibran juga berkaitan dengan apa yang ia anggap sebagai persoalan kelayakan untuk menduduki jabatan wakil presiden.
Di akhir pernyataannya, ia kembali mendesak Jokowi menerima kenyataan dan mengakhiri polemik tersebut.
“Sebenarnya ijazah hanya satu hal, tapi mata kepala dan pikiran kami melihat ketaklayakannya. Berjiwa besarlah untuk menerima realitas ini. Cukup sudah. Cukup Pak!”
imbuh Akbar.