Anak-anak muda tertarik terhadap politik, tetapi tidak yakin suaranya didengar (maupun) dapat menghasilkan perubahan. Akhirnya dalam rangka untuk mencari perubahan itu mereka berdemonstrasi,”
kata Lili dikutip pada Senin, 2 November 2026.
Kondisi tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi bagi partai politik. Sebab, demonstrasi yang terus berulang menunjukkan ada aspirasi yang belum tersalurkan melalui jalur politik formal.
Akses
Salah satu persoalan yang disoroti Lili adalah akses anak muda untuk masuk ke parlemen. Ia mengutip penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang menemukan 50 dari 87 anggota DPR berusia di bawah 40 tahun memiliki hubungan dengan dinasti politik atau sekitar 57,5 persen dari total legislator muda
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran generasi muda di parlemen belum sepenuhnya mencerminkan terbukanya kesempatan politik bagi seluruh anak muda. Laporan CSIS juga menyoroti beratnya persaingan bagi calon legislatif muda, terutama di tengah peningkatan jumlah anggota parlemen inkumben dan mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dengan dinasti politik.
Lili tidak menilai hubungan keluarga dengan elite politik otomatis membuat seseorang tidak layak terlibat dalam politik. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana mereka menggunakan akses dan posisi politik yang dimiliki.
Anak muda dari keluarga dinasti memiliki akses terhadap jaringan dan sumber daya politik yang dapat memudahkan mereka masuk ke lembaga perwakilan, tapi akses tersebut juga menyisakan persoalan kesetaraan kesempatan bagi anak muda lain yang tidak memiliki hubungan dengan elite.
Lili menilai anak muda dari keluarga dinasti politik tetap perlu dibentuk agar memiliki pola pikir kritis dan berkomitmen mengawal demokrasi.
Bagaimana anak-anak dinasti itu dididik agar bersifat kritis,”
ujar dia.
Ia pun mendorong agar partai politik membuka kesempatan lebih luas bagi anak muda di luar lingkaran dinasti. Keterwakilan politik harus memenuhi tiga aspek, yakni deskriptif, substantif, dan akuntabel.
Keterwakilan deskriptif berarti memberi ruang bagi anak muda untuk menjadi calon legislatif. Keterwakilan substantif menekankan kapasitas, kemampuan, dan integritas calon, sedangkan keterwakilan akuntabel menuntut wakil rakyat tetap memperjuangkan kepentingan generasi yang diwakilinya.
Jadi orang-orang yang pintar, aktivis, itulah yang harus maju dicalonkan,”
kata Lili.
Ia juga mengusulkan kebijakan afirmasi bagi kandidat muda, termasuk dukungan pendanaan agar mereka memiliki kesempatan bersaing dalam pemilu. Mahalnya biaya politik dapat membuat anak muda tanpa dukungan finansial dan jaringan elite semakin sulit menembus parlemen.
Dengan demikian, tantangan regenerasi politik bukan hanya menghadirkan lebih banyak anggota parlemen berusia muda. Partai politik juga perlu memastikan akses pencalonan lebih terbuka dan legislator terpilih benar-benar memperjuangkan aspirasi generasi muda.