Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Siklon Tropis Senyar dan Koto telah berakhir. Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Dr. Ida Pramuwardani.
Untuk sistem yang berkembang beberapa hari terakhir, Tropical Cyclone (TC) Senyar dan TC Koto saat ini sudah dinyatakan punah,”
ujar Ida Pramuwardani kepada owrite, Rabu, 3 Desember 2025.
Dijelaskannya, TC Senyar punah pada 27 November 2025 pukul 07.00 WIB (00 UTC) dan kemudian melemah menjadi tropical depression serta tropical low pada 30 November 2025.
Meski sistemnya melemah, sisa pengaruh berupa peningkatan awan dan hujan masih sempat dirasakan di Indonesia,”
jelasnya.
Selain itu, TC Koto dinyatakan punah pada 1 Desember 2025 pukul 13.00 WIB (06 UTC) dan sudah tidak memberikan dampak terhadap Indonesia sejak 30 November karena jaraknya yang semakin jauh.
Meski kedua siklon telah berakhir, namun potensi munculnya bibit siklon maupun siklon tropis baru tetap ada, terutama jika kondisi atmosfer dan laut mendukung.
Selain itu, cuaca Indonesia juga dipengaruhi dinamika lain seperti muson, gelombang atmosfer tropis, dan anomali suhu muka laut.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memantau informasi resmi dari BMKG,”
tandasnya.
Siklon Tropis Senyar adalah sebuah siklon tropis langka dan mematikan yang menerjang Semenanjung Malaysia, Thailand Selatan, dan Sumatra, Indonesia pada bulan November 2025.
Siklon tropis memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 49 mph (80 km/jam) dan membawa hujan deras serta banjir bandang ke Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Sumatra, Indonesia. Siklon tropis tersebut terbentuk akibat tekanan rendah pada 22 November, daerah tekanan rendah tersebut menguat menjadi depresi ketika bergerak ke arah barat.
Kemudian badai depresi tersebut menguat menjadi depresi yang dalam karena konveksi berkembang dan bertahan. Namun, perkembangan lebih lanjut terbatas karena kedekatannya dengan daratan.
Sistem tersebut mendarat di Sumatera timur laut menjelang tengah malam dan mulai memburuk karena meningkatnya geseran angin. Ini adalah siklon tropis kedua yang terdokumentasikan di Selat Malaka setelah Badai Tropis Vamei pada tahun 2001
Sementara itu, tropical depression dan tropical low adalah istilah untuk siklon tropis yang lemah, dengan tropical low lebih merupakan istilah umum untuk gangguan bertekanan rendah dan tropical depression adalah tahap spesifik setelah gangguan tropis, dengan kecepatan angin maksimum berkelanjutan di bawah 39 mph (sekitar 62 km/jam).
Siklon tropis berkembang secara bertahap melalui berbagai tingkatan, dimulai dari gangguan tropis, lalu menjadi depresi tropis, badai tropis, dan akhirnya siklon tropis penuh (seperti badai atau topan).


