Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Usman Husin, melayangkan sindiran keras pada Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, agar mundur dari jabatannya setelah tragedi banjir dan longsor di wilayah Sumatera. Usman menilai, Raja Juli tak memiliki kompetensi di bidang kehutanan.
Kalau Pak Menteri enggak mampu, mundur aja. Pak Menteri enggak paham tentang kehutanan,”
kata Usman dalam rapat kerja Komisi IV bersama Raja Juli membahas banjir dan longsor Sumatra, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis 4 Desember 2025.
Usman menjelaskan, persoalan kehutanan merupakan tanggung jawab penuh pejabat yang sedang menjabat saat ini.
Berapa tahun dibutuhkan untuk menanam ulang hutan yang sudah habis? Pohon dengan diameter dua meter tidak bisa tumbuh kembali dalam waktu singkat. Itu tanggung jawab Menteri saat ini. Jangan lempar ke pemerintah terdahulu,”
kata Usman.
Dia menyoroti pernyataan Menteri yang mengutip ayat dan hadis, namun tidak selaras dengan kebijakan yang diambil.
Usman juga menyinggung Raja Juli yang mengeluhkan izin pengelolaan hutan di Tapanuli Selatan pada Oktober lalu. Di sisi lain, Bupati di wilayah itu berharap agar izin tersebut tak dikeluarkan. Namun, pada 20 November, izin justru dikeluarkan Raja Juli.
Ternyata 20 November izinnya keluar. Sehingga apa yang disampaikan Pak Menteri tidak sejalan semua. Jadi seolah-olah kita ini bisa diakalin semua,”
tegas Usman.
Kritik yang sama juga disampaikan oleh Ketua Komisi IV, Titiek Soeharto, yang mengecam keras adanya penampakan truk pengangkut kayu raksasa pasca bencana banjir Sumatera. Titiek pun mendesak Raja Juli untuk menghentikan total praktik penebangan pohon besar dan menindak tegas pelakunya tanpa pandang bulu.
Terus terang saya sedih, miris, dan saya marah, bayangkan kayu sebesar itu diameter 1,5 meter, itu berapa ratus tahun perlu tumbuh? Ini manusia mana di Indonesia yang seenaknya motong kayu seperti itu?”
tegas Titiek.
Yang lebih menjengkelkan, truk itu lewat di jalan raya, dua hari setelah peristiwa banjir ini, dan dengan kemajuan teknologi, truk itu lewat di depan hidung kita, sungguh menyakitkan, Pak Menteri. Kalau orang Jawa bilang, perusahaan ini ngece (mengejek),”
tambahnya.
Sementara itu, usai rapat, Raja Juli menanggapi semua kritikan yang ditujukan padanya. Ia menjelaskan, bahwa posisinya di dalam pemerintahan merupakan hak prerogatif Presiden. Oleh karenanya, alih-alih mundur, Raja Juli mengaku siap dievaluasi.
Dia pun menambahkan kritik masyarakat kepada dirinya dalam tragedi banjir dan longsor di Sumatera akan menjadi aspirasi baginya.
Saya yakin ya namanya kekuasaan itu milik Allah, dan itu hak prerogatif Presiden. Jadi saya siap dievaluasi,”
ungkap Raja Juli.
Menhut pun membenarkan bahwa tragedi banjir bandang di Sumatera yang disusul penemuan truk kayu raksasa adalah refleksi buruk dari tata kelola hutan.
Peristiwa (bencana Sumatera) ini menjadi refleksi mendesak untuk perbaikan tata kelola hutan nasional,”
pungkas Raja Juli.

