Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, melalui akun X miliknya, menyampaikan pandangan perihal penanganan bencana di Sumatera. Ia menegaskan penanganan bencana itu kompleks dan tidak mudah seperti anggapan publik saat ini.
Terutama pada fase tanggap darurat yang biasanya terjadi kelumpuhan di sana-sini. Penanganan bencana, termasuk rekonstruksi dan rehabilitasinya, memerlukan waktu,”
kata dia.
Bahkan lanjut dia, Indonesia saat ini memerlukan sumber daya, finansial, kebijakan, master plan, dan pelaksanaan yang efektif.
SBY mengaku hal ini ia dapatkan berdasar pengalamannya ketika menjabat, perihal mengatasi bencana tsunami di Aceh dan Nias, gempa di Yogyakarta dan Padang, serta sejumlah bencana alam berskala besar lainnya.
Komando dan pengendalian harus efektif, dan idealnya Presiden bisa memimpin melalui manajemen krisis, tetapi cara dan gaya yang dipilih oleh kepala pemerintahan tidak selalu sama,”
ujar SBY.
Ia mencontohkan, bahwa yang dilakukan Presiden Prabowo saat ini berbeda dengannya ketika menjabat. Alasannya disebabkan oleh perbedaan situasi atau konteks bencana, perbedaan jenis bencana dan magnitude kerusakan, serta beda cara di antara para pemimpin.
Saya tahu, Presiden Prabowo dengan serius terjun ke lapangan dan memberikan atensi penuh. Saya juga tahu, Presiden Prabowo telah mengambil sejumlah kebijakan untuk membangun kembali provinsi-provinsi di Sumatera yang mengalami bencana alam tersebut,”
aku SBY.
Untuk itu, dia meminta publik memfokuskan pada rehabilitasi dan rekonstruksi daerah terdampak agar kembali pulih dan lebih baik daripada sebelumnya.
Sejumlah faktor yang dia anggap membuat rehabilitasi dan rekonstruksi berhasil yakni konsep rehabilitasi dan rekonstruksi yang baik, organisasi dan kepemimpinan di lapangan yang efektif, serta implementasi rencana yang efektif, dan akuntabilitas penggunaan uang negara.
Berdasarkan data dari Geoportal BNPB, per 26 Desember 2025, total korban meninggal dalam bencana ini mencapai 1.135 jiwa. Dampak kematian terparah terjadi di Kabupaten Aceh Utara (205), Kabupaten Agam (191), Kabupaten Tapanuli Tengah (133). Kemudian, 163 orang dilaporkan masih hilang dan terdapat 457.300 pengungsi.

