Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo menyampaikan pengakuan yang menyentuh terkait solidaritas Gereja Katolik di Indonesia.
Ia mengaku baru kali ini menyaksikan seluruh gereja Katolik di Tanah Air bergerak bersama secara serentak untuk membantu korban bencana alam di wilayah Sumatera.
Menurut Kardinal Suharyo, gerakan kolektif ini merupakan peristiwa bersejarah yang belum pernah terjadi sepanjang hidupnya.
Tadi saya sebut di dalam Homili, di dalam gereja, misalnya satu, ketika bencana alam yang dibarengi dengan kesalahan manusia itu meledek untuk tahun ini, lalu saya berbicara tentang gereja Katolik, belum pernah di dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia, semua Keuskupan dan semua Paroki di semua Keuskupan, bersama-sama mengumpulkan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, belum pernah, baru kali ini. Seumur hidup saya, 75 tahun, belum ada gerakan seperti itu. Ini menunjukkan bela rasa yang tanpa pamrih, tanpa kepentingan,”
kata Kardinal Suharyo.
Dana Dihimpun Lewat Kolekte Kedua Nasional
Kardinal Suharyo menjelaskan bahwa penggalangan dana dilakukan secara terorganisir melalui kolekte kedua yang dilaksanakan serentak di seluruh gereja Katolik pada hari Sabtu dan Minggu.
Dana yang terkumpul kemudian dikonsolidasikan secara nasional melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebelum disalurkan ke wilayah terdampak bencana.
Kardinal menyampaikan, penggalangan dana oleh seluruh keuskupan dan paroki itu dengan mengadakan kolekte kedua pada Sabtu dan Minggu, kemudian dikumpulkan secara terpusat melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Dana tersebut, berikutnya disalurkan melalui Charitas Indonesia, lembaga resmi Gereja Katolik yang secara khusus menangani kebencanaan. Dana yang terkumpul disatukan di Konferensi Waligereja Indonesia, lalu disalurkan melalui Caritas Indonesia,”
paparnya.
Caritas Indonesia Turun Langsung ke Lokasi Bencana
Sebagai lembaga resmi Gereja Katolik di bidang kemanusiaan, Caritas Indonesia telah mengirimkan tim ke wilayah terdampak untuk melakukan pendampingan serta penyaluran bantuan.
Namun, Kardinal Suharyo mengakui bahwa keterbatasan jangkauan dan prioritas membuat beberapa keuskupan memilih menyalurkan bantuan secara langsung ke daerah masing-masing.
Ia mencontohkan Keuskupan Padang (Sumatera Barat), Keuskupan Sibolga (Sumatera Utara), serta wilayah Aceh yang berada di bawah pelayanan Keuskupan Agung Medan.
Menurutnya, kondisi bencana di wilayah-wilayah tersebut tergolong sangat parah dan memerlukan penanganan yang lebih spesifik.
Ini tidak lewat pemerintah, tetapi lewat Keuskupan setempat, supaya bantuan bisa lebih cepat menjangkau saudara-saudara kita yang menderita,”
kata Suharyo.
Diperkirakan Butuh Puluhan Tahun
Lebih jauh, Kardinal Suharyo menekankan bahwa proses pemulihan pascabencana di Sumatera tidak bisa dilakukan secara instan. Berdasarkan informasi yang ia terima, pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Ini untuk menemukan kembali rumah, tanah, itu kan susahnya bukan main, karena semuanya sudah tertumpuk. Tertumpuk dengan pasir, tertumpuk dengan batu rata ya, susah sekali. Bukan 1-2 bulan pemulihan membutuhkan waktu bertahun-tahun, belum nanti traumanya, belum segala macam. Jadi, semua ini bentuk kesadaran untuk bersolidaritas dengan sesama warga bangsa,”
tandasnya.
Gerakan penggalangan dana nasional oleh Gereja Katolik Indonesia ini menjadi simbol kuat solidaritas lintas wilayah dan kepentingan. Tanpa motif politik atau kepentingan tertentu, aksi ini mencerminkan semangat kemanusiaan dan kebersamaan dalam menghadapi bencana besar.



