If the internet suddenly goes down everywhere, listen carefully. No social media, no news, no GPS, no banks. When that happens, you won’t be able to search for what to do, so take this information now, because once the signal is gone, you will be on your own.”
Begitu mukadimah dari sebuah video yang beredar di media sosial. Tayangan itu menekankan dampak “jika internet mati total”.
No messages, no updates, no explanations. Within minutes, panic will start. People will rush to ATMs that don’t work. Digital payments will not work. Everything is digital, everything will stop.”
Kekhawatiran perang ini juga membuat eks Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan bahwa selama tiga tahun terakhir ia mencermati perkembangan dunia, terutama dinamika global yang semakin intens dalam beberapa bulan terakhir.
Melalui unggahan di media sosial X, ia mengatakan dengan latar belakang panjang di bidang geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, SBY mengaku sulit menepis rasa cemas terhadap situasi saat ini.
Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,”
kata dia.
SBY menegaskan bahwa meskipun perang dunia masih bisa dicegah, waktu dan ruang untuk melakukan pencegahan itu semakin terbatas.
Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit.”
kata dia.
Bayangan mengenai dunia yang tiba-tiba kehilangan akses internet seringkali hanya dikaitkan dengan ketidakmampuan mengakses media sosial atau hiburan digital.
Internet Bukan Lagi Pelengkap, Tapi Fondasi Negara
Namun, pakar keamanan siber sekaligus Chairman CISSReC Pratama Persadha, mengingatkan bahwa skenario tersebut memiliki implikasi yang jauh lebih mengerikan: sebuah guncangan sistemik terhadap peradaban modern.
Dalam tanggapannya perihal skenario hipotetis “dunia tanpa internet”, Pratama menyatakan internet saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Dari sudut pandang keamanan siber, internet bukan hanya sarana komunikasi, tetapi telah menjadi tulang punggung infrastruktur kritis negara, penggerak ekonomi, serta medium utama interaksi sosial dan politik,”
kata Pratama kepada owrite.
Kehilangan internet bakal memicu efek domino yang luas dan kompleks, jauh melampaui bayangan sekadar tidak bisa mengakses media sosial atau layanan digital. Dampak pertama dan paling vital akan dirasakan oleh negara.
Hilangnya internet akan memaksa pemerintah kembali ke “zaman batu” birokrasi, sistem administrasi modern yang mengandalkan basis data terpusat akan runtuh.
Hampir seluruh proses administrasi modern, mulai dari pengelolaan data kependudukan, sistem pajak, layanan kesehatan, hingga koordinasi antar lembaga negara, bergantung pada konektivitas digital. Tanpa internet, negara dipaksa kembali pada sistem manual yang lambat, rentan kesalahan, dan sulit diawasi.
Dalam konteks keamanan nasional, sistem pertahanan dan intelijen juga akan kehilangan salah satu instrumen utamanya dalam deteksi dini ancaman, pertukaran informasi cepat, serta analisis data skala besar.
Negara yang tidak siap menghadapi kondisi ini akan mengalami penurunan kapasitas pengambilan keputusan secara drastis, terutama dalam situasi krisis,”
jelas Pratama.
Internet Mati, Ekonomi Ikut Tumbang
Kemudian, perekonomian juga masuk ke dalam situasi suram. Internet yang selama ini menjadi “jalan tol” bagi transaksi global yang bergerak dalam hitungan detik, jika terputus, akan memicu kelumpuhan total pada sistem perbankan dan rantai pasok.
Dampak terhadap perekonomian akan terasa sangat signifikan. Internet telah menyatukan pasar global, memungkinkan transaksi lintas negara, perdagangan elektronik, serta sistem keuangan digital yang bergerak dalam hitungan detik. Tanpa internet, rantai pasok akan terganggu, sistem perbankan modern lumpuh, dan aktivitas ekonomi melambat secara ekstrem,”
ujar dia.
Bahkan UMKM yang selama ini bergantung pada platform digital bisa kehilangan akses pasar, sementara industri berbasis teknologi hampir tidak dapat beroperasi.
Negara berpotensi mengalami resesi mendalam karena produktivitas turun dan biaya operasional melonjak akibat kembali ke proses konvensional,”
tegas Pratama.
Bagi masyarakat atau rakyat, ketiadaan internet dapat mengubah pola hidup secara fundamental. Akses terhadap informasi menjadi terbatas dan tersentralisasi, sehingga membuka ruang lebih besar bagi disinformasi versi lama yang disebarkan dari mulut ke mulut atau melalui media tradisional yang terbatas.
Pendidikan akan mengalami kemunduran karena hilangnya sumber belajar daring, kelas jarak jauh, dan akses jurnal ilmiah global. Bagi generasi muda yang tumbuh di era digital, kondisi ini dapat menimbulkan disorientasi sosial dan psikologis lantaran terputusnya ruang interaksi yang selama ini mereka kenal.
Sementara dalam aspek sosial dan budaya, dunia tanpa internet akan mempersempit ruang ekspresi dan partisipasi publik. Media sosial, meskipun sering menuai kritik, telah menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk bersuara, mengawasi kekuasaan, dan membangun solidaritas lintas wilayah.
Tanpa internet, lanjut Pratama, kontrol informasi akan kembali terpusat pada segelintir institusi, baik negara maupun media besar. Hal ini berpotensi memperlebar jarak antara penguasa dan rakyat serta mempersempit ruang transparansi dan akuntabilitas.
Sementara, dari perspektif keamanan siber ketiadaan internet memang akan menghilangkan sebagian besar kejahatan siber seperti peretasan, penipuan daring, atau pencurian data digital lintas jaringan. Namun, Pratama memperingatkan bahwa ini bukan berarti dunia menjadi lebih aman.
Ancaman akan bergeser ke bentuk lain, seperti penyalahgunaan data secara offline, sabotase fisik terhadap infrastruktur teknologi, serta meningkatnya kejahatan konvensional akibat lemahnya sistem pengawasan dan pencatatan. Keamanan informasi tetap menjadi isu, hanya medium dan metodenya yang berubah,”
tutur Pratama.
Secara lebih luas, dunia tanpa internet akan menandai kemunduran besar dalam kolaborasi global. Penelitian ilmiah, penanganan bencana, isu perubahan iklim, hingga kerja sama keamanan internasional sangat bergantung pada pertukaran data dan komunikasi cepat.
Tanpa internet, dunia akan menjadi lebih terfragmentasi, lambat merespons krisis global, dan cenderung kembali pada kepentingan nasional sempit,”
ujar dia.


