Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 23 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part II) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?
Nasional

(Part II) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Februari 4, 2026 5:28 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
dokumen istimewa
Gambar ilustrasi RUU Disinformasi dan Propaganda Asing. (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Mata Koin

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers turut mengeluarkan sikap tegas menanggapi wacana pembentukan RUU ini.

Daftar isi Konten
  • Mata Koin
  • Konsensus Pemahaman

Alih-alih menyehatkan ruang publik, regulasi tersebut berpotensi besar menciptakan “narasi tunggal” versi negara dan memperparah praktik kriminalisasi terhadap jurnalis dan warga sipil.

Ada bahaya laten dalam draf regulasi ini: hegemoni kebenaran oleh penguasa dan tumpang tindih aturan yang berujung pada penjara (overkriminalisasi).

Direktur Eksekutif LBH Pers Mustafa Layong, memperingatkan bahwa RUU ini dirancang dengan logika yang menempatkan pemerintah sebagai satu-satunya wasit kebenaran.

Dalam ekosistem demokrasi, kebenaran seharusnya diuji melalui diskursus publik dan mekanisme pers yang bebas, bukan distempel oleh badan negara.

Naskah Akademik yang seharusnya memuat data dan fakta lapangan secara akademis tidak mampu menunjukkan urgensi dibalik narasi pembentukan produk regulasi ini.

Orientasi rancangan pembentukan perundang-undangan baru ini lagi-lagi menyasar pada pemidanaan masyarakat sipil, khususnya kelompok masyarakat sipil dengan narasi “antek asing” yang berulang kali didengungkan oleh presiden dalam pidato-pidato kenegaraan,”

ujar Mustafa.

Muatan sanksi pidana pada sebuah produk regulasi baru, yang tidak dapat dibuktikan urgensi penyusunannya, bakal menimbulkan overkriminalisasi baru.

Kondisi ini tak hanya menambah beban finansial negara, tapi juga mengancam demokrasi dan mempersempit ruang kebebasan sipil.

Regulasi ini, lanjut Mustafa, dianggap tak menanggulangi disinformasi, tapi berpotensi memidana pengkritik pemerintah.

Padahal pemerintah sudah dibekali cukup banyak peraturan (UU ITE dan KUHP) yang juga rawan disalahgunakan demi menghambat penyebaran kritik atau narasi berbeda dengan pemerintah. 

Berdasar Naskah Akademik, RUU ini mengamanatkan pembentukan lembaga otoritas sebagai pengawas independen yang berwenang memantau ekosistem informasi digital.

Pembentukan lembaga serupa pun dimandatkan dalam naskah RUU Keamanan dan Ketahanan Siber.

Pembentukan lembaga pengawasan serupa mengingatkan kembali Indonesia pada masa Orde Baru yang berperan sebagai alat utama kontrol media dan propaganda pemerintah dalam membatasi kebebasan pers dan menyensor informasi kritis terhadap rezim saat itu,”

jelas Mustafa.

Ia memperingatkan, bahwa pembentukan kelembagaan baru jangan digunakan sebagai panggung “bagi-bagi kue” dengan menyediakan jalur hijau bagi aparat negara yang tidak seharusnya memegang fungsi dan jabatan pada ruang sipil. 

(Part I) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Konsensus Pemahaman

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Firman Kurniawan Sujono, mengingatkan pemerintah untuk tidak menggunakan pendekatan “narasi tunggal” dalam penyusunan RUU ini.

Keterlibatan publik dan definisi yang rigid menjadi kunci agar regulasi ini tidak berubah menjadi alat represi.

Ancaman disinformasi global saat ini sangat nyata dan berbahaya, namun ia menekankan bahwa “imunitas” (literasi) masyarakat jauh lebih efektif daripada sekadar sensor atau pemblokiran. Firman tidak menampik urgensi perlindungan negara di era digital.

Ia mencontohkan kasus di Prancis dan Myanmar—disinformasi yang diproduksi secara canggih (termasuk menggunakan Artificial Intelligence/AI)—mampu mengguncang stabilitas nasional dan memicu konflik horizontal.

Disinformasi itu memang sebuah ancaman yang nyata. Tujuan (RUU) untuk membangun ketahanan informasi nasional. Jadi, undang-undang ini penting di tengah situasi global dan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Permainan sekarang itu bukan perang fisik, tetapi sebuah negara bisa dilemahkan dengan disinformasi,”

jelas Firman kepada owrite.

Dalam konteks ini, negara memang wajib hadir untuk membangun ketahanan informasi nasional. Firman berpendapat ada dua cara membangun ketahanan informasi: pencegahan melalui edukasi (imunitas) atau penindakan melalui pemblokiran (filtering).

Indonesia sebagai negara demokrasi lebih diutamakan undang-undang ini ke arah pencegahan, ketahanan informasi. Ketika itu yang diutamakan akan bermanfaat buat masyarakat tanpa muncul kecurigaan pembatasan informasi, pengekangan kebebasan berpendapat, dan sebagainya,”

kata dia.

Firman menegaskan, bila ada keperluan untuk memblokir disinformasi dan propaganda asing dalam kategori mendesak (emergency), wajib dilakukan dengan sangat berlapis yakni melibatkan akademisi dan para ahli.

Artinya bukan hanya merepresentasikan kepentingan pemerintah semata, namun mekanisme tersebut tidak boleh dilakukan sepihak oleh pemerintah.

Menanggapi kekhawatiran bahwa RUU ini bakal mengisolasi Indonesia seperti Great Firewall di China—sistem kombinasi teknologi dan kebijakan legislatif yang digunakan pemerintah Tiongkok untuk menyaring, memantau, dan memblokir konten internet asing, menciptakan ruang siber domestik yang terisolasi—Firman mengingatkan bahaya memukul rata semua “konten asing” sebagai ancaman.

Indonesia membutuhkan pertukaran data dan riset global untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Ia juga menyoroti bahwa algoritma filtering bisa memiliki bias tergantung siapa pengaturnya.

Bila tidak hati-hati dan cermat, sistem bisa saja memblokir kritik yang sah hanya karena dianggap bertentangan dengan kepentingan rezim. Kalau undang-undang ini dibentuk, tidak semua hal asing harus dan harus diblokir.

Ketika terbukti (propaganda), negara punya lembaga intelijen dan punya pengalaman pengaruh ideologi dari luar dan sebagainya. Itu ada algoritmanya. Hal yang semacam itu perlu digunakan sebagai pertimbangan dan tidak membabi buta segala hal dari asing harus ditangkal,”

ucap Firman.

Perihal kritik masyarakat sipil soal potensi “pasal karet” dan tumpang tindih dengan regulasi serupa, Firman memberikan solusi konkret: perjelas definisi dan spesifikasikan ranah yang diatur, terutama untuk hal-hal baru yang belum terdapat dalam hukum saat, umpama kejahatan Deepfake AI. Maka pendefinisian harus tegas: apa yang disebut dengan konten asing, adu domba, hasutan, misalnya.

Itu perlu dijelaskan dengan rigid dan melibatkan banyak pihak untuk memberikan pendapat. Jadi, pendekatan bukan satu arah. Perlu mengetengahkan dialog antarpihak bahwa Indonesia menghadapi situasi perkembangan global, kemajuan teknologi, dan sebagainya,”

kata dia.

Keberhasilan RUU ini sangat bergantung pada kepercayaan publik. Bila pemerintah memaksakan kehendak tanpa dialog, regulasi ini justru bakal melahirkan resistensi. Kalau narasi tunggal dari rezim, alhasil publik emoh percaya.

Maka kata kuncinya adalah ‘melibatkan banyak pihak’,”

tutur Firman.
Tag:DPRmenteri koordinator bidang hukum ham dan pemasyarakatanPrabowo SubiantoPresidenpropaganda asingruu disinformasiSpillYLBHIyusril ihza mahendra
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Jokowi ‘Curi Start’ Pilpres 2029, Ada Misi Mengunci Kursi Cawapres untuk Gibran
By Hardani Triyoga
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
1
PLN Jadwalkan Pemadaman Listrik di Bojonggede dan Citayam Hari Ini, Cek Wilayah Terdampak
By Ani Ratnasari
Pemadaman listrik
2
Teriak Takbir Pakai Baju Tahanan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Dilimpahkan ke Kejari Jaksel
By Rahmat Baihaqi
Roy Suryo dan dr. Tifa dilimpahkan kepada Kejari Jaksel dari Rutan Polda Metro Jaya, Senin, 22 Juni 2026.
3
Usai Bikin Geger Pemadaman Bergilir, PLN Klaim Gangguan Listrik Jawa Berangsur Pulih
By Natania Longdong
Direktur Utama PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam konferensi pers di PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali), Depok, Jawa Barat. (Sumber: Dok. PLN)
4
Janji Kompensasi Mandalika Diduga Zonk, ITDC dan Dinas Perkim Loteng Dilaporkan ke KPK
By Rahmat Baihaqi
LSBH NTB melaporkan dugaan korupsi relokasi pemukiman Mandalika kepada KPK, 22 Juni 2026.
5

BERITA LAINNYA

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman. (Sumber: dpr.go.id)
Nasional

DPR Naik Pitam Ada Wanita Disiksa di Bandung, Polisi Diminta Bertindak Tegas Tanpa Kompromi

Kasus penyekapan dan penyiksaan terhadap seorang wanita di Bandung, Jawa Barat mendapat…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
7 jam lalu
Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) mencurahkan kegelisahannya di hadapan pimpinan DPR RI dan Panitia Khusus.
Nasional

KNRA Curhat ke DPR: Rapat Berkali-kali, Tapi Petani Masih Digusur dan Dikriminalisasi!

Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) mencurahkan kegelisahannya di hadapan pimpinan DPR RI…

Hardani TriyogaRika Pangesti
By
Hardani Triyoga
Rika Pangesti
7 jam lalu
DPR Terima Aspirasi Koalisi Nasional Reforma Agraria
Nasional

Usai Serap Aspirasi KNRA, Pansus Agraria Bakal Panggil Pihak-Pihak Bersengketa

DPR RI telah menyerap aspirasi dari Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) terkait…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
11 jam lalu
DPR Terima Aspirasi Koalisi Nasional Reforma Agraria
Nasional

DPR Terima Aspirasi Koalisi Nasional Reforma Agraria, Pansus Janji Tindak Lanjuti Konflik Tanah di Berbagai Daerah

Aksi demonstrasi yang digelar massa dari Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNRA) di…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
11 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up