Kasus campak kembali ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTB). Kasus ini meningkat dalam kurun waktu setahun terakhir di Indonesia.
Berdasarkan data periode Oktober 2025 hingga 32 Januari 2026, tercatat 306 kasus campak ditemukan di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Hal itu menyebabkan satu warga meninggal dunia. Pemerintah Kabupaten Bima pun menetapkan wabah campak sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Selasa, 28 Agustus 2025, jumlah kasus campak pada 2022, tercatat lebih dari 4.800 kasus campak, melonjak signifikan pada 2023 hingga menembus lebih dari 10.600 kasus.
Memasuki 2024, jumlah kasus sempat menurun menjadi lebih dari 3.500 kasus. Namun, tren kembali berbalik pada 2025.
Epidemiolog dari Universitas Griffth, Australia, Dicky Budiman mengatakan terkait wabah campak dan penetapan status KLB akibat adanya kasus campak.
Dicky mengatakan ada beberapa faktor utama penyebabnya.
Pertama, yang menyebabkan kasus campak kembali meningkat di satu negara, wilayah, atau daerah itu karena herd immunity atau kekebalan populasinya yang menurun yang disebabkan oleh cakupan vaksinasi yang belum optimal,”
ujar Dicky kepada owrite, Senin 16 Februari 2026.
Dicky mengatakan campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi, dengan angka reproduksi campak bisa mencapai 19-20.
Artinya, dari satu orang terinfeksi dapat menularkan belasan orang lainnya yang tidak memiliki kekebalan.
Penularannya melalui droplet dan juga kontak langsung jadi hanya sedikit kontak yang diperlukan untuk menyebarkan virus antar individu tertentu tanpa adanya imunitas,”
tambah Dicky.
Untuk mencapai kekebalan kelompok atau komunal, Dicky mengatakan perlu dia dosis vaksin, yaitu MR1 dan MR2, dengan cakupan harus diatas atau sama dengan 95% yang sudah divaksin lengkapnya.
Sayangnya kebanyakan masyarakat Indonesia baru menjalankan vaksin MR1, sementara MR2 cakupan vaksinasinya masih sangat rendah.
Jauh dibawah target dan ini yang menyebabkan adanya celah imunitas yang mempermudah virus menyebar, dan ini yang menyebabkan meskipun MR1 nya relatif lebih tinggi karena MR2 nya rendah, sehingga banyak anak atau remaja yang belum memiliki perlindungan lengkap terhadap virus campak ini yang menjadi kontributor utama lonjakan kasus,”
paparnya.
Lebih lanjut Dicky mengatakan mobilitas penduduk yang tinggi disertai cakupan vaksin antarwilayah juga bida jadi penyebabnya.
Perpindahan penduduk antar desa, kota, hingga provinsi mempercepat penyebaran virus dari satu komunitas ke komunitas lain, terutama ketika terdapat kelompok masyarakat dengan imunitas rendah,”
tuturnya.
Selanjutnya, adanya penundaan atau gangguan layanan imunisasi, yang dapat disebabkan oleh prioritas program kesehatan lain, keterbatasan sumber daya manusia, maupun kendala sistem layanan.
Selain itu, masih terdapat keraguan atau kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya vaksin campak, yang memicu vaccine hesitancy dan memperlambat pencapaian cakupan imunisasi yang optimal,”
