Bagi Anda yang berencana untuk menikmati liburan di Kyoto perlu tahu dulu, bahwa per 1 Maret 2026 pajak akomodasi naik 10 kali lipat dari sebelumnya.
Jika Anda adalah wisatawan dengan anggaran terbatas dan biaya menginap Anda di bawah 6000 yen (sekitar Rp650.000) per orang per malam, tidak ada kenaikan, sehingga pajak tetap 200 yen (sekitar Rp21.500).
Namun untuk Anda yang menginap di akomodasi berbiaya antara 6000 – 19.999 yen (sekitar Rp650.000 hingga Rp 2.15 juta), pajaknya dinaikkan dari 200 menjadi 400 yen (sekitar Rp43.000).
Besaran pajak berbeda lagi untuk Anda yang menginap di akomodasi dengan harga antara 20 ribu hingga 49.999 yen (sekitar Rp 2,15 juta hingga Rp 5,4 juta). Pajaknya meningkat dari 500 yen menjadi 1.000 yen (sekitar Rp107.700).
Kenaikan pajak akomodasi signifikan dirasakan oleh turis yang menginap di akomodasi dengan biaya lebih dari 50 ribu yen hingga 99.999 yen per malam (sekitar Rp5,4 juta hingga Rp10,77 juta). Besaran pajak yang dikenakan naik dari sekitar 1.000 yen menjadi 4.000 yen (sekitar Rp430. 700).
Terakhir, untuk mereka yang menginap di akomodasi dengan harga lebih dari 100 ribu yen per malam (sekitar Rp10,77 juta), pajaknya melonjak menjadi 10 ribu yen (sekitar Rp1,07 juta), meningkat sepuluh kali lipat.
Alasan Kenaikan Pajak
Perubahan pajak ini pertama kali diumumkan pada tahun 2018, alasannya adalah untuk menekan overtourism atau kunjungan wisatan yang berlebihan.
Sebab, Kyoto sering disebut-sebut dalam debat global yang sedang berlangsung tentang dampak keramaian besar dan perilaku buruk wisatawan terhadap destinasi populer di seluruh dunia, menciptakan ketegangan yang sengit antara penduduk lokal dan warga asing.
Meskipun peningkatan jumlah wisatawan membawa manfaat ekonomi, masuknya pengunjung juga dapat menciptakan tantangan serius bagi suatu negara.
Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) telah vokal tentang penyebaran jumlah wisatawan dan menginginkan warga Australia untuk menjelajahi tempat-tempat di luar pusat-pusat wisata di “Rute Emas”.
Namun, Kota Kyoto mengatakan kepada news.com.au bahwa mereka tidak ingin membatasi pengunjung, mereka hanya tidak ingin semua pengunjung berada di tempat yang sama pada waktu yang sama.
Kami berharap pengunjung dari Australia akan memperhatikan komunitas lokal dan menjelajahi ‘permata tersembunyi’ di berbagai daerah di luar situs-situs utama untuk merasakan kedalaman sejati pesona Kyoto,”
kata direktur senior kantor industri dan pariwisata Kota Kyoto, Takamasa Kadono kepada news.com.au, Minggu, 1 Maret 2026.
Penyaluran Penggunaan Dana Pajak Akomodasi
Selain mendanai manajemen pariwisata dan peningkatan infrastruktur, diharapkan penambahan tekanan biaya pada penginapan mahal akan mendorong lebih banyak orang untuk menginap selama musim yang lebih tenang dan di daerah yang kurang ramai.
Direktur Jenderal Asosiasi Pariwisata Kota Kyoto, Junichi Tanaka, mengatakan bahwa dana pajak tersebut akan digunakan untuk mengatasi masalah pariwisata seperti kemacetan lalu lintas dan sampah, melestarikan lanskap, dan mempromosikan budaya tradisional.
Lebih spesifiknya, dana tersebut akan mensubsidi acara-acara tradisional seperti Festival Gion pada bulan Juli, yang merupakan festival terbesar di negara ini, dan Gozan no Okuribi pada bulan Agustus, di mana lima api unggun raksasa dinyalakan di pegunungan yang mengelilingi kota.
Uang tambahan tersebut juga akan membantu melestarikan rumah-rumah kota tradisional Kyoto dan mengoperasikan bus wisata ekspres untuk mengurangi kepadatan penumpang di bus kota, kata Tanaka.
Wisatawan akan membayar pajak melalui hotel mereka dan disarankan untuk memeriksa apakah pajak tersebut sudah termasuk dalam tarif kamar.
Manajer umum Ace Hotel Kyoto, Shiho Ikeuchi, mengatakan bahwa ia melihat pajak tersebut sebagai investasi dalam kualitas jangka panjang Kyoto sebagai destinasi wisata.
Sebagai pengelola hotel, kami mendukung langkah-langkah yang melindungi hal-hal yang ingin dinikmati tamu kami di sin. Kyoto yang dikelola dengan baik adalah Kyoto yang lebih menarik, dan para tamu yang merasa berkontribusi pada pelestarian kota cenderung merasa lebih positif tentang kunjungan mereka, bukan sebaliknya,”
kata Shiho Ikeuchi.
