Sebuah ledakan dahsyat kembali mengguncang ibu kota Iran pada hari Minggu, 1 Maret 2026 ketika militer Israel mengatakan mereka menargetkan jantung kota.
Sebelumnya, Iran menembakkan rudal ke sejumlah target yang semakin luas di Israel, dan negara-negara Teluk Arab sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dilansir dari AP News, ledakan di Teheran yang targetnya belum jelas menghasilkan kepulan asap besar ke langit dan mengguncang tanah.
Ledakan tersebut tampaknya berpusat di lingkungan tempat markas besar kepolisian negara dan televisi pemerintah Iran berada, serta Pengadilan Revolusi Teheran dan sebuah gedung Kementerian Pertahanan.
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 membuka babak baru yang mengejutkan dalam intervensi AS dan berpotensi memicu kekerasan balasan dan perang yang lebih luas.
Hal ini sebagai bentuk menunjukkan kekuatan militer yang mengejutkan bagi seorang Presiden Amerika, Donald Trump. Ini adalah kali kedua dalam delapan bulan pemerintahan Trump menggunakan kekuatan militer terhadap Republik Islam tersebut.
Dalam perang 12 hari pada bulan Juni, serangan Israel dan Amerika sangat melemahkan pertahanan udara, kepemimpinan militer, dan program nuklir Iran.
Namun, pembunuhan Khamenei dan seruan Presiden AS Donald Trump kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka secara signifikan meningkatkan taruhan, menciptakan kekosongan kepemimpinan di Republik Islam dan meningkatkan risiko ketidakstabilan regional.
Kalian telah melanggar garis merah kami dan harus membayar harganya. Kami akan memberikan pukulan yang begitu dahsyat sehingga kalian sendiri akan terpaksa mengemis,”
kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dalam pidato yang disiarkan televisi.
Trump memperingatkan, bahwa setiap pembalasan hanya akan menyebabkan eskalasi lebih lanjut.
Sebaiknya mereka tidak melakukan itu. Jika mereka melakukannya, kita akan menghajar mereka dengan kekuatan yanf belum pernah terlihat sebelumnya,”
ucap Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.
Sebagai pertanda bagaimana serangan itu dapat menyebarkan ketidakstabilan di seluruh wilayah, ratusan orang menyerbu Konsulat AS di kota pelabuhan Karachi, Pakistan, pada hari Minggu.
Polisi dan pasukan paramiliter menggunakan pentungan dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa, dan setidaknya enam orang tewas dalam bentrokan tersebut, kata pihak berwenang.

