Iran dikabarkan telah menentukan calon Pemimpin Tertinggi baru setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan yang dilakukan Amerika Serikat dan zionis Israel pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026.
Dikutip dari informasi eksklusif yang diperoleh Iran International, pada Kamis, 5 Maret 2026, Majelis Ahli Iran disebut telah memilih putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai penggantinya. Keputusan tersebut diambil pada Selasa di bawah tekanan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Namun, keputusan ini belum diumumkan secara resmi dan diperkirakan baru akan disampaikan kepada publik setelah pemakaman Ali Khamenei selesai digelar.
Pemilihan Mojtaba Khamenei disebut bukan proses suksesi biasa. Keputusan tersebut diambil dalam situasi perang dan sangat dipengaruhi oleh kepentingan aparat keamanan Iran, terlebih negara dalam ancaman sekaligus kekosongan kepemimpinan di puncak kekuasaaan.
Peran IRGC dalam Suksesi
Perlu diketahui, Korps Garda Revolusi Islam memiliki dua kepentingan utama dalam menentukan suksesi kepemimpinan Iran saat ini yaitu kendali dan legitimasi.
Kendali berarti memastikan tidak terjadi perpecahan di elite kekuasaan, menjaga koordinasi aparat keamanan, serta mencegah perebutan kekuasaan di tengah krisis.
Sementara legitimasi yang dimaksud bukan dalam konteks masyarakat luas, melainkan di dalam lingkaran inti rezim, seperti politisi garis keras, institusi keamanan, serta jaringan loyalis yang masih mendukung Republik Islam.
Dalam konteks itu, Mojtaba Khamenei dianggap memiliki keunggulan dibanding kandidat lain. Ia dapat mengklaim kesinambungan langsung dengan ayahnya, sehingga basis inti rezim dinilai lebih mudah menerima kepemimpinannya.
Mojtaba juga diketahui memiliki hubungan lama dengan IRGC dan jaringan komandonya. Selama bertahun-tahun, ia disebut menjadi penghubung penting antara ayahnya dan elite militer Iran. Selain itu, selama dua dekade terakhir Mojtaba disebut telah mengelola kantor Pemimpin Tertinggi yang dikenal sebagai Beit, pusat kekuasaan utama dalam sistem politik Iran.
Meski Iran memiliki presiden dan pemerintahan terpilih, banyak analis menilai kekuasaan sebenarnya berada di kantor Pemimpin Tertinggi yang mengendalikan berbagai keputusan keamanan, politik, dan keuangan negara.
Iran di Persimpangan Jalan
Dengan kepemimpinan baru yang sedang dibentuk, Republik Islam Iran kini menghadapi dua pilihan besar. Yaitu, pertama adalah melanjutkan perlawanan dan tetap bersikap keras terhadap serangan yang datang dari luar. Strategi ini berpotensi melibatkan penggunaan rudal, drone, jaringan sekutu regional, serta operasi militer tidak langsung.
Pilihan kedua adalah mengambil langkah mundur dengan menerima konsesi besar demi menghentikan perang dan meredakan tekanan internasional.
Jika Iran memilih de-eskalasi, beberapa tuntutan yang kemungkinan harus dipenuhi antara lain menghentikan program pengayaan uranium sebagai proyek nasional, membatasi kemampuan rudal jarak jauh, serta mengurangi jaringan milisi sekutu di kawasan. Bahkan, Iran juga dapat didorong untuk mengakhiri kebijakan konfrontatif terhadap Israel.
Bagi Mojtaba Khamenei, menerima tuntutan tersebut bukan sekadar perubahan kebijakan, tetapi juga berpotensi mengakhiri warisan politik ayahnya yang telah memimpin Iran selama hampir empat dekade.

