Nama Mojtaba Khamenei kini mencuat sebagai kandidat paling kuat untuk menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu.
Menurut laporan The New York Times pada Rabu 4 Maret 2026, sejumlah pejabat Iran mengungkap bahwa para ulama dan tokoh agama yang memiliki kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi telah mengadakan musyawarah pada Selasa 3 Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, nama Mojtaba Khamenei disebut sebagai salah satu kandidat paling kuat untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Meski demikian, hingga Rabu pagi keputusan final masih dalam proses pembahasan. Beberapa pihak juga mengkhawatirkan bahwa jika Mojtaba benar-benar ditunjuk, ia berpotensi menjadi target serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei dan dikenal sebagai ulama berusia 47 tahun yang memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan Iran.
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa hingga kini belum ada pengumuman resmi dari otoritas Iran mengenai siapa yang akan menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi.
Namun sejumlah media Barat dan Israel menilai Mojtaba sebagai kandidat paling kuat.
Dalam serangan yang menewaskan ayahnya, sejumlah anggota keluarga Mojtaba juga dilaporkan menjadi korban, termasuk ibu, istri, dan salah satu saudara perempuannya.
Sementara itu, Mojtaba tidak berada di lokasi saat serangan terjadi dan dilaporkan selamat.
Sumber anonim yang dikutip oleh Iran International bahkan menyebutkan bahwa Majelis Pakar Iran telah menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru, meskipun hingga kini belum ada pengumuman resmi kepada publik.
Figur Berpengaruh di Balik Layar Kekuasaan Iran
Meski jarang tampil di hadapan publik, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sistem politik Iran.
Selama bertahun-tahun, ia bekerja dari kantor Pemimpin Tertinggi dan berperan sebagai penjaga akses terhadap ayahnya, sekaligus perantara bagi berbagai keputusan penting dalam lingkaran kekuasaan.
Perannya sering dibandingkan dengan Ahmad Khomeini, putra pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, yang pada masa awal revolusi berfungsi sebagai orang kepercayaan utama sang pemimpin.
Beberapa analis menilai Mojtaba secara perlahan memperluas pengaruhnya di berbagai lembaga penting, mulai dari institusi politik hingga lembaga keamanan.
Salah satu faktor yang memperkuat posisi Mojtaba adalah hubungannya yang dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), lembaga militer yang memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran.
Pada masa Perang Iran–Irak pada 1980-an, Mojtaba diketahui pernah bertugas di Batalyon Habib, sebuah unit yang terdiri dari sukarelawan jaringan revolusioner Iran.
Unit tersebut berada di bawah formasi yang berafiliasi dengan IRGC dan terlibat dalam sejumlah pertempuran penting selama konflik tersebut.
Pengalaman militer itu diyakini memperkuat hubungan Mojtaba dengan sejumlah tokoh yang kemudian menempati posisi penting di lembaga keamanan dan intelijen Iran.
Dinilai Kontroversial oleh Pengamat Politik
Meski memiliki pengaruh kuat, Mojtaba Khamenei juga menjadi sosok yang kontroversial di kalangan analis dan pengamat politik.
Direktur Middle East Political and Information Network (MEPIN), Eric Mandel, mengatakan kepada Iran International bahwa Mojtaba telah lama menjadi figur penting yang bekerja di balik layar kekuasaan di Teheran.
Menurut Mandel, Mojtaba membangun kedekatan dengan IRGC serta memperkuat pengaruhnya dalam struktur rezim Iran.
Sementara itu, analis Iran Arash Azizi menilai Mojtaba kerap dipandang dengan kecurigaan oleh sebagian pihak, terutama oleh kelompok yang mendukung gerakan demokrasi di Iran.
Ia disebut-sebut terlibat dalam penindasan terhadap gerakan oposisi, terutama setelah gelombang protes politik pada 2009.
Relasi yang dibangun Mojtaba sejak masa perang hingga saat ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan Iran.
Beberapa mantan rekan seperjuangannya kini memegang jabatan strategis dalam lembaga intelijen serta komando keamanan negara yang bertugas menjaga stabilitas rezim.
Jaringan tersebut membuat Mojtaba Khamenei dianggap memiliki dukungan kuat di berbagai institusi penting di Iran.
Namun di sisi lain, sejumlah pihak juga menuduhnya memiliki peran dalam memengaruhi hasil pemilu serta mengoordinasikan tindakan terhadap kelompok oposisi politik.

