Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masuk dalam jajaran presiden yang tidak populer di negaranya sendiri dengan kinerja buruk.
Menurut survei CNN Poll of Polls, rata-rata tingkat persetujuan masyarakat atau rating dari kinerja Donald Trump hanya mendapat 35 persen. Angka ini membuatnya mendekati level George W. Bush (sebesar 30 persen), satu-satunya presiden sejak Jimmy Carter yang pernah bertahan cukup lama dengan presentase buruk selama kepemimpinannya.
Melansir dari CNN Internasional, rating tersebut berisiko membuat Partai Republik kehilangan suara dari pemilih, mengingat enam bulan menjelang pemilu di AS pada 2026.
Lalu Bagaimana Penurunan Itu Bisa Terjadi?
Penurunan presentase kinerja Trump itu sebenarnya berlangsung perlahan, namun konsisten sepanjang lebih dari 15 bulan Trump kembali menjabat sebagai presiden. Meski demikian, CNN mencatat ada beberapa momen penting yang menonjol.
Pertama kali tingkat persetujuan Trump turun signifikan terjadi secara mendadak. Padahal, Trump memulai masa jabatannya dengan tingkat persetujuan terbaik sepanjang karier politiknya, dengan beberapa survei menunjukkan angkanya di atas 50 persen pada akhir Januari 2025. Namun masa-masa itu sangat singkat.
Penyebab Penurunan Presentase Kinerja
Sulit memastikan secara pasti apa penyebab penurunan cepat presentase tersebut. Hari-hari pertama Trump kembali ke Gedung Putih dipenuhi berbagai tindakan sepihak. Dua faktor yang kemungkinan besar berpengaruh adalah pengampunan terhadap hampir semua terdakwa kasus kerusuhan Capitol pada 6 Januari 2021, dan pemangkasan pegawai dan layanan pemerintah secara kacau melalui Department of Government Efficiency (DOGE) yang dipimpin Elon Musk.
Momen besar berikutnya datang pada awal April, ketika Trump benar-benar memperluas kebijakan tarifnya. Pengumuman “Liberation Day” pada 2 April secara efektif memicu perang dagang dengan sebagian besar negara di dunia. Namun, Mahkamah Agung tahun ini membatalkan banyak tarif tersebut.
Warga Amerika yang sebelumnya penasaran dengan kebijakan tarif dengan cepat berbalik menentangnya. Rata-rata tingkat persetujuan Trump turun dari 45 persen saat tarif diumumkan menjadi 41 persen sebulan kemudian.
Enam bulan berikutnya relatif stabil, meskipun Partai Republik di Kongres meloloskan agenda legislasi Trump dan Departemen Kehakiman salah menangani kasus berkas Epstein.
Dukungannya mulai kembali melemah, sementara Partai Demokrat meraih hasil kuat dalam pemilu 2025 dengan memenangkan pemilihan gubernur di New Jersey dan Virginia secara telak.

Titik panas berikutnya terjadi pada Januari, ketika penindakan imigrasi agresif Trump berujung pada kematian Renee Good dan Alex Pretti oleh agen federal di Minneapolis. Pemerintah dengan cepat menyatakan bahwa Good dan Pretti bersalah bahkan menyebut mereka sebagai teroris domestik. Namun mayoritas warga Amerika tidak setuju.
Isu Sensitif Selama Kepemimpinan Trump
Dan kini, tibalah pada isu terbesar saat ini, yakni perang Iran, yang menurut jajak pendapat pada Jumat lalu dianggap sebagai “kesalahan” oleh 61 persen warga Amerika.
Sekali lagi, angka Trump memang tidak langsung anjlok, dukungannya turun dari rata-rata 38 persen saat perang dimulai pada akhir Februari, menjadi 35 persen saat ini.
Namun, perang tersebut menyebabkan sebagian pendukung setia Trump selama bertahun-tahun mulai berubah sikap. Konflik itu juga membuat penilaian publik terhadap kinerja ekonominya jatuh ke titik terendah baru.
Sebanyak 64 persen warga yang kini tidak menyetujui kinerjanya dalam CNN Poll of Polls.
Selain momen-momen penting tadi, ada beberapa faktor lain, salah satunya adalah sikap terlalu percaya diri. Trump memerintah seolah-olah ia benar-benar yakin memiliki mandat besar seperti yang ia klaim, bukan sebagai seseorang yang hanya memenangkan pluralitas suara populer.
Ia melakukan banyak kebijakan yang tidak populer, bahkan sering kali sudah dapat diprediksi. Ia mengambil kebijakan yang mungkin populer, seperti meningkatkan deportasi, tetapi menjalankannya dengan cara yang dianggap publik “terlalu berlebihan”, seperti operasi di Minneapolis. Dan mungkin yang paling penting, ia mengambil alih tanggung jawab hampir atas segala hal dengan bertindak secara sepihak.

Kebijakan Ekonomi yang ‘Ngasal’
Ekonomi sebenarnya sudah tidak stabil dan harga-harga tetap tinggi, tetapi Trump tetap memilih mengguncang situasi melalui tarif global dan kini perang Iran, dua hal yang kini dikaitkan langsung oleh warga Amerika dengan kesulitan ekonomi yang mereka alami.
Dinamika penting kedua adalah Trump merusak dirinya sendiri pada isu paling penting, yakni biaya hidup.
Tarif memang berdampak buruk, tetapi perang Iran lebih parah lagi. Harga bensin yang melonjak hingga di atas US$4 per galon membuat tingkat persetujuan Trump di bidang ekonomi dalam survei CNN jatuh ke titik terendah sepanjang masa, yakni 31 persen.
Sementara angka buruk terkait biaya hidup semakin memburuk, sampai mayoritas survei menunjukkan 70 persen atau lebih warga tidak menyetujui penanganannya atas isu tersebut.
Faktor ketiga adalah prioritas yang dianggap salah. Masalahnya bukan hanya warga Amerika tidak menyukai kebijakannya soal biaya hidup. Mereka juga merasa Trump mengabaikan isu tersebut.
Survei CNN pada Maret menunjukkan 65 persen warga Amerika mengatakan Trump “belum cukup mumpuni” dalam menurunkan harga.
Sementara survei CBS News, YouGov menunjukkan tiga perempat warga Amerika menilai Trump belum cukup fokus pada upaya menurunkan harga.
Ketika Trump berbicara soal ekonomi, ia terlihat tidak terlalu tertarik. Sementara itu, Trump justru mengejar berbagai intervensi militer luar negeri yang menurut survei tidak terlalu diinginkan warga Amerika.
Survei CNN pada Maret lalu juga menunjukkan 67 persen warga Amerika mengatakan Trump tidak memberi cukup perhatian pada masalah paling penting di negara itu.
Kompetensi Trump Diragukan Rakyat AS

Terakhir adalah menurunnya pandangan publik terhadap kompetensi dan kapasitas dirinya. Ekonomi yang cukup kuat pada masa jabatan pertamanya hingga pandemi COVID-19 membuat banyak orang yang mungkin tidak menyukainya secara pribadi tetap melihatnya sebagai pebisnis sukses yang mampu menjalankan negara.
Kini pandangan itu mulai diragukan. Survei Pew Research Center menunjukkan penurunan tajam kepercayaan publik terhadap kemampuan Trump mengambil keputusan yang tepat dalam kebijakan luar negeri.
Survei Pew terbaru pada minggu lalu menunjukkan sedikitnya 60 persen warga Amerika tidak percaya Trump mampu mengelola cabang eksekutif pemerintahan, atau menggunakan kekuatan militer secara bijak, dan membuat keputusan luar negeri yang baik, atau bekerja efektif dengan Kongres.
Kekhawatiran mengenai ketajaman mental dan stabilitas Trump juga mulai meningkat setelah sejumlah kesalahan bicara yang ia lakukan. Bahkan satu survei terbaru menunjukkan 61 persen warga Amerika dan 30 persen pemilih Partai Republik setuju bahwa Trump “menjadi tidak stabil karena faktor usia.”


