Keterlibatan negara besar dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) – Israel dan Iran mulai mencuat. Salah satu indikasinya bahwa Rusia memberikan informasi intelijen terhadap Iran terkait aktivitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan langkah tersebut menunjukkan adanya potensi keterlibatan Rusia dalam konflik yang sedang memanas.
Rusia kemarin katanya memberikan informasi letak dari pasukan Amerika dan lain sebagainya. Dan ini sudah ditanyakan ke Trump, walaupun Trump mengatakan bahwa enggak atau apa,”
kata Hikmahanto pada owrite, Rabu 11 Maret 2026.
Menurut Hikmahanto, kabar mengenai informasi intelijen tersebut menunjukkan bahwa konflik yang awalnya terbatas antara beberapa pihak berpotensi melibatkan kekuatan besar lain.
Ini kan sudah keterlibatan. Belum lagi juga China. Saya yakin juga akan bantu karena China itu tidak rela kalau Amerika Serikat akhirnya bisa menundukkan pemerintahan di Iran dan mem-Venezuelakan Iran,”
ujarnya.
Guru Besar UI itu menjelaskan bahwa faktor energi menjadi salah satu alasan utama mengapa China menjadi sekutu Iran. Negeri Tirai Bambu tersebut juga merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri.
Jadi kalau sekarang ini kan, wakil presiden yang jadi presiden Venezuela itu dilarang untuk menjual minyak ke China. Nah kalau (AS menguasai) Teheran juga (dan) melarang menjual minyak ke China, itu kan China akan kelimpungan. Karena apa? Dia sangat membutuhkan minyak,”
jelasnya.
Hikmahanto menambahkan bahwa cadangan minyak yang besar di beberapa negara seperti Iran dan Venezuela membuat konflik geopolitik di kawasan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepentingan energi global.
Dan oil reserve terbesar itu ada di Venezuela dan di Iran,”
ujarnya.
Menurut Hikmahanto, dinamika tersebut menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya melibatkan aktor regional, tetapi juga berpotensi menjadi arena persaingan kekuatan besar dunia.


