Mudik Lebaran 2026 diwarnai gejolak perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel vs Iran. Perang ini telah membuat harga minyak melambung tinggi, dan menyebabkan sejumlah negara mengambil langkah penghematan dengan memangkas jam kerja hingga work from home (WFH) untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan, harapan ekonomi RI bisa tumbuh tinggi karena ada momentum Ramadan dan Lebaran, tampaknya akan kandas. Hal ini disebabkan karena perang yang terjadi di Timur Tengah.
Saya melihat ada penurunan keyakinan konsumen di bulan Februari, dan nampaknya sedikit menguat di Maret ini. Saya sebenarnya sempat berharap ada kenaikan yang signifikan didorong dari momen Ramadan dan Lebaran, tapi nampaknya isu akhir-akhir ini membuat harapan meningkat signifikan tipis,”
ujar Huda saat dihubungi owrite Kamis, 12 Maret 2026.
Huda menjelaskan, ekspektasi kondisi ekonomi ke depan yang bisa lebih buruk membuat masyarakat menahan daya beli. Ia memperkirakan, masyarakat yang melakukan mudik pada tahun ini tidak akan sebanyak dua tahun lalu.
Ekspektasi kondisi ekonomi ke depan yang bisa lebih buruk membuat masyarakat menahan daya beli masyarakat. Musim mudik kali ini pun saya rasa tidak akan seramai dua tahun lalu. Tingkat okupansi KAI masih rendah, kemarin diumumkan hanya 58 persen, pesawat nampaknya lebih rendah lagi,”
tuturnya.
Menurunnya ekspektasi masyarakat tersebut kata Huda, disebabkan oleh faktor perang yang membuat adanya potensi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik. Sehingga, masyarakat akan menahan konsumsi dan mengendurkan belanja.
Masyarakat sudah berebut bensin (panic buying) hingga menahan konsumsi agar bisa bertahan di kemudian hari. Akibatnya, mereka mengendurkan belanja saat ini untuk bersiap di masa depan,”
katanya.
Huda menilai, momentum Ramadan dan Lebaran 2026 tidak akan banyak mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari kuartal I-2025 yang sebesar 4,87 persen secara year on year (yoy).
Nampaknya momen Ramadan ditambah Lebaran kali ini tidak banyak mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026,”
ujar Huda.
Adapun Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan sebanyak 50,60 persen penduduk Indonesia atau 143,91 juta orang akan melakukan mudik Lebaran pada tahun ini. Sementara itu, pada Lebaran 2025 jumlah orang mudik sebanyak 146,48 juta orang, dan di Lebaran 2024 mencapai 193,6 juta orang, setara dengan 71,7 persen penduduk Indonesia.


