Ketegangan AS-Irael vs Iran
Salah satu isu yang paling disorot adalah hubungan diplomatik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini memicu kekhawatiran terkait partisipasi tim nasional Iran dalam turnamen yang sebagian besar digelar di wilayah Amerika Serikat.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bahkan mengakui bahwa situasi politik membuat negaranya sulit memandang turnamen tersebut dengan optimisme.
Sulit bagi kami untuk menantikan Piala Dunia, tapi keputusan tetap ada di tangan para pejabat olahraga,”
ujar Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj.
Sebelumnya, delegasi Iran juga memilih tidak hadir dalam acara pengundian kompetisi pada akhir 2025. Ketidakhadiran tersebut terjadi karena sejumlah pejabat federasi gagal memperoleh dokumen perjalanan untuk menghadiri acara di Amerika Serikat.
Masalah serupa juga dialami klub Jamaika, Mount Pleasant FA, yang harus kehilangan sepuluh pemainnya menjelang pertandingan melawan LA Galaxy di Champions Cup. Enam pemain berkewarganegaraan Haiti tidak dapat bepergian akibat aturan pembatasan perjalanan yang berlaku.
Direktur olahraga Mount Pleasant, Paul Christie, menyebut situasi tersebut merugikan kesiapan tim.
Kami tidak ingin sekadar hadir untuk pertandingan, kami ingin bisa bersaing. Tapi kami tidak diberi kesempatan untuk tampil maksimal,”
kata Christie.
Kekerasan Kartel Meksiko jadi Tantangan Keamanan
Selain isu politik internasional, masalah keamanan juga menjadi perhatian menjelang turnamen. Meningkatnya kekerasan kartel di Mexico setelah kematian tokoh kartel El Mencho pada 22 Februari disebut memicu eskalasi kekerasan terhadap pemerintah dan masyarakat.
Dengan tiga stadion di Meksiko yang akan menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia, kebutuhan akan pengamanan tambahan menjadi hal yang tidak terhindarkan. Langkah tersebut tidak hanya meningkatkan beban finansial bagi FIFA, tetapi juga memunculkan berbagai tantangan logistik seperti pengamanan perjalanan tim dan keselamatan para penggemar.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, diperkirakan akan menghadapi berbagai tantangan besar dalam mempersiapkan Piala Dunia 2026.
Beberapa persoalan yang diperkirakan muncul antara lain Konflik antara Israel dan Iran yang dapat memengaruhi partisipasi Iran di turnamen.
Tingginya biaya keamanan di sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat, dan Hubungan diplomatik yang memburuk antara Denmark dan Amerika Serikat setelah pernyataan Presiden Donald Trump mengenai Greenland.
Inspirasi dari Turnamen Kriket Dunia
Menariknya, Infantino sempat memberikan ucapan selamat kepada International Cricket Council dan Jay Shah atas penyelenggaraan Piala Dunia T20.
Dalam unggahannya, ia menulis:
Selamat kepada ICC dan teman saya Jay Shah atas penyelenggaraan Piala Dunia T20 yang luar biasa. Selamat juga kepada India atas gelar lainnya. Setelah mengunjungi negara Anda yang luar biasa, saya tahu betapa besar arti kemenangan ini bagi Anda.”
kata Christie.
Dalam turnamen tersebut, Pakistan memainkan seluruh pertandingannya di Sri Lanka karena hubungan diplomatik yang tegang dengan India.
Model serupa berpotensi menjadi inspirasi bagi FIFA. Jika konflik diplomatik terus memanas, pertandingan yang melibatkan Iran bisa saja dipindahkan ke Canada.
Di antara tiga negara tuan rumah—Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada—Kanada dinilai sebagai lokasi yang paling memungkinkan untuk menggelar laga tambahan tersebut.
Piala Dunia selama ini dikenal sebagai panggung terbesar olahraga global. Namun setiap edisinya juga memperlihatkan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar terpisah dari realitas politik dunia.
Piala Dunia 2026 kemungkinan kembali mengingatkan publik bahwa di balik sorak-sorai stadion dan trofi emas yang diperebutkan, sepak bola sering berdiri di persimpangan antara olahraga, bisnis, dan geopolitik internasional.

