Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis siang 19 Maret 2026, menyita perhatian publik. Di balik balutan silaturahmi menjelang Idul Fitri 1447 H, pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu sarat pembahasan strategis menyangkut arah bangsa di tengah tekanan global.
Tampak terlihat dalam publikasi gambar-gambar yang disampaikan akun instagram Sekretariat Kabinet, Megawati hadir didampingi putrinya, Puan Maharani, sementara Prabowo didampingi putranya, Didit Hediprasetyo. Suasana disebut hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Namun isi pembicaraan jauh dari sekadar basa-basi Lebaran.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa kedua tokoh membahas isu-isu krusial, mulai dari geopolitik global hingga kondisi ekonomi dalam negeri yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
Megawati, menurut Hasto, memberikan pandangan strategis berdasarkan pengalaman panjangnya, termasuk mengingatkan peran historis Indonesia dalam percaturan dunia seperti Konferensi Asia Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok 1961. Bahkan, ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan GNB karena pernah menjadi delegasi termuda saat berusia 14 tahun di Beograd.
Dalam konteks kekinian, Hasto juga menyebutkan, bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan itu juga menyoroti pentingnya menjaga arah politik luar negeri Indonesia agar tetap independen di tengah meningkatnya tensi global.

Tak hanya itu, isu ekonomi juga menjadi perhatian serius. Megawati mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya terkait batas defisit maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Pesan tersebut menjadi krusial di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian global yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi nasional.
Prioritas kebijakan harus benar-benar selektif dan tepat sasaran agar kondisi fiskal tetap terjaga,”
menjadi salah satu penekanan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Megawati juga berbagi pengalaman saat memimpin Indonesia di tengah krisis multidimensi pada periode 2001–2004. Pengalaman tersebut dinilai relevan sebagai referensi menghadapi situasi global yang kembali tidak menentu.
Dalam perspektif politik, PDI Perjuangan menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung pemerintah dalam menghadapi situasi sulit, dengan mengedepankan prinsip gotong royong dan persatuan nasional.
Menariknya, di penghujung pertemuan, Megawati turut membagikan pengalamannya usai melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi pada Februari 2026. Ia menilai posisi Indonesia di mata negara-negara Timur Tengah masih sangat dihormati, sebuah modal penting dalam memperkuat diplomasi ke depan.
Pertemuan ini pun memunculkan spekulasi: apakah sekadar silaturahmi Lebaran, atau sinyal awal konsolidasi besar di tengah tekanan geopolitik dan ekonomi yang kian kompleks.
Yang jelas, di tengah dunia yang terus bergejolak, komunikasi antar elite bangsa tampaknya kembali menjadi kunci.


