Kemacetan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang memicu antrean kendaraan hingga puluhan kilometer tidak hanya melumpuhkan mobilitas, tapi juga merenggut korban jiwa.
Menyikapi hal tersebut, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengurai akar masalah dan memberikan rekomendasi solusi jangka panjang.
Tragedi antrean kendaraan di lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk mulai terjadi sejak 15 Maret 2026.
Ribuan kendaraan terjebak berjam-jam hingga mengular puluhan kilometer–info terakhir mencapai 30 kilometer. Insiden ini harus dimitigasi secara tepat dan haram terulang di masa mendatang.
Dalam kajiannya, yang dikutip pada Selasa, 24 Maret 2026, MTI merumuskan empat faktor teknis utama yang menjadi penyebab kelumpuhan di Ketapang-Gilimanuk.
Berdekatannya Hari Raya Nyepi dengan Hari Raya Idulfitri 2026 menyebabkan pertemuan dua arus besar. Arus mudik Lebaran dari Bali menuju Jawa bertabrakan dengan arus keluar Bali menjelang Nyepi, memicu lonjakan volume kendaraan.
Kemudian akses menuju pelabuhan masih bersifat terbuka. Kendaraan dapat langsung menuju Pelabuhan Gilimanuk tanpa tiket atau kode reservasi yang disesuaikan dengan jadwal armada. Akibatnya, kedatangan kendaraan tidak terjadwal dan melampaui kuota penyeberangan.
Begitu pula kapasitas dermaga yang minim menjadi bottleneck utama, membuat kapal-kapal harus bergantian untuk bersandar, mengakibatkan akibat antrean yang tidak tertampung di pelabuhan, jalan nasional terpaksa beralih fungsi menjadi area penyangga (buffer zone).
Dari keempat masalah teknis tersebut, MTI menarik benang merah bahwa akar permasalahan ada pada kegagalan sistem perencanaan dasar.
MTI menegaskan pemangku kepentingan gagal mengantisipasi keadaan karena mengabaikan sistem peramalan lalu lintas.
Ini memperlihatkan secara nyata bahwa pemodelan dan peramalan (forecasting) pergerakan transportasi masih belum sepenuhnya digunakan oleh para pemangku kepentingan,”
tulis MTI.
Maka lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk ini harus diperlakukan sebagai koridor transportasi strategis yang memerlukan perencanaan kajian kapasitas jangka panjang, serta disertai berbagai pendekatan terintegrasi.
Pemodelan dan peramalan transportasi menjadi hal yang esensial untuk dilaksanakan secara serius dan konsisten.
Untuk mencegah tragedi berulang, MTI merekomendasikan tiga solusi, yaitu membangun sistem forecasting yang kuat. Sistem ini harus mencakup semua moda untuk memantau permintaan perjalanan secara berkala.
Peramalan tidak boleh hanya berhenti pada keinginan bergerak (desire line), tapi harus dianalisis menggunakan perangkat lunak strategis (seperti PTV Visum, Bentley OpenPaths, TransCAD) dan pemanfaatan data seluler.
Kemudian membangun integrasi data transportasi secara menyeluruh, sebab pergerakan transportasi modern bersifat multimoda, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang pemodelan transportasi agar mampu menghasilkan analisis yang komprehensif dan antisipatif.
Sebagai tindak lanjut, MTI juga mendesak adanya kajian kapasitas jangka panjang terhadap sistem penyeberangan Jawa-Bali.
Kajian ini wajib mencakup proyeksi pertumbuhan kendaraan, kebutuhan kapal, penambahan dermaga, hingga penyediaan zona penyangga yang dilengkapi sistem pertiketan berbasis jadwal dan kuota yang terintegrasi.
Prediksi Puncak
Wakil Direktur Utama PT Indonesia Ferry (Persero), Yossianis Marciano menyebut puncak arus balik Menara di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk diprediksi terjadi pada 26-29 Maret.
Kami mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menentukan waktu perjalanan saat arus balik,”
kata dia, Senin, 23 Maret.
Ia mengimbau kepada para pengguna jasa untuk mengatur jadwal perjalanan lebih awal atau memilih waktu di luar periode puncak arus balik, sehingga perjalanan tetap nyaman tanpa harus menghadapi antrean.
Selain itu, pemudik diimbau membeli tiket secara mandiri melalui platform digital Ferizy, serta memastikan kedatangan di pelabuhan sesuai jadwal.
Pergerakan arus balik hingga H+1 Lebaran 2026 di penyeberangan Selat Bali itu mulai meningkat. Namun, Yossianis mengklaim pelayanan di Pelabuhan Ketapang maupun Pelabuhan Gilimanuk tetap berlangsung lancar, tertib, dan berada dalam kendali optimal.


