Saudi Aramco, eksportir minyak terbesar di dunia, telah memangkas pasokan minyak mentah ke Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan April. Hal ini berdasarkan dua sumber yang tidak diketahui namanya.
Menurut sumber tersebut, keputusan itu terjadi setelah perang AS-Israel vs Iran mengganggu perdagangan melalui Selat Hormuz.
Produsen minyak itu, hanya memasok minyak mentah Arab Light yang diekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah ke pelanggan jangka panjang pada bulan April, sehingga pasokan ke kilang-kilang di Asia tetap ketat dan membatasi produksi produk olahan mereka,”
kata sumber tersebut, dikutip dari The Straits Times, Rabu, 25 Maret 2026.
Perusahaan minyak raksasa milik negara itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Saudi Aramco terus memastikan pasokan energi yang andal dengan memanfaatkan jalur ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap kondisi regional yang terus berubah.
Kami tetap berkomitmen untuk memenuhi harapan pelanggan kami, dengan jadwal pemuatan yang disesuaikan untuk mencerminkan realitas baru, dan pelanggan terus diberi informasi. Prioritas kami adalah untuk mempertahankan operasi yang aman dan andal sambil mendukung stabilitas pasar selama periode ini,”
ujarnya.
Arab Saudi juga telah mengekspor 4,355 juta barel per hari (bpd) minyak mentah sejauh ini pada bulan Maret, data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan, turun dari 7,108 juta bpd pada bulan Februari.
Lebih jauh, produsen tersebut berupaya meningkatkan ekspor minyak mentah melalui Yanbu untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz, dengan muatan yang diperkirakan akan meningkat hingga volume rekor pada Maret.
Sementara itu, kilang minyak utama China, Sinopec, dijadwalkan akan memuat sekitar 24 juta barel minyak mentah Saudi dari Yanbu pada Maret 2026.
Aktivitas bongkar muat minyak di pelabuhan Yanbu juga sempat terganggu pada 19 Maret 2026 setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Saudi Aramco.


