Pemerintah berencana menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pasca Lebaran 2026. Kebijakan ini dinilai berpotensi menekan aktivitas ekonomi harian, terutama di sektor transportasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Laporan Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menilai, di balik tujuan efisiensi energi, kebijakan ini justru membawa konsekuensi langsung terhadap ekonomi berbasis mobilitas.
Sektor transportasi adalah yang paling terpukul,”
kata Analis Senior ISEAI Ronny P. Sasmita dalam laporan tersebut, dikutip Rabu, 25 Maret 2026.
Penurunan mobilitas pekerja selama satu hari dalam sepekan diperkirakan akan mengurangi jumlah penumpang transportasi publik dan pendapatan sektor informal. ISEAI mencatat, pekerja transportasi berbasis aplikasi berpotensi kehilangan sebagian besar pendapatan dari segmen komuter.
Pengurangan satu hari kerja berarti kehilangan 20 persen potensi pendapatan mingguan dari segmen pelanggan komuter,”
ujar Ronny.
Tak hanya itu, sektor UMKM di kawasan perkantoran juga menghadapi tekanan. Pelaku usaha kuliner yang bergantung pada konsumsi harian pekerja diperkirakan akan mengalami penurunan omzet.
Satu hari WFH akan menciptakan ‘hari mati’ bagi ribuan pedagang kecil yang selama ini mensuplai kebutuhan makan siang pekerja,”
tulisnya.
Laporan tersebut juga menyoroti dampak yang lebih luas terhadap perputaran ekonomi di pusat bisnis. Aktivitas konsumsi yang biasanya terjadi di luar rumah akan berkurang seiring berpindahnya pekerja ke rumah.
Dengan memindahkan pekerja ke rumah, konsumsi yang biasanya terjadi di luar akan melambat,”
tutur Ronny.
Selain itu, perlambatan konsumsi ini berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian nasional, terutama melalui penurunan kecepatan perputaran uang.
Pusat ekonomi perkantoran adalah mesin perputaran uang yang sangat cepat,”
tulis Ronny, menggambarkan besarnya dampak jika aktivitas tersebut berkurang.
ISEAI menilai, tanpa kebijakan penyeimbang, langkah ini dapat menciptakan dilema antara penghematan fiskal dan keberlangsungan ekonomi sektor informal yang bergantung pada mobilitas harian.



