Pemimpin kelompok Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa pihaknya tidak bersikap netral dalam konflik yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis 26 Maret 2026 melalui pidato yang disiarkan oleh televisi Al-Masirah.
Kami tidak netral, tetapi posisi kami berasal dari rasa memiliki terhadap Islam dan negara Islam. Setiap perkembangan yang terjadi di lapangan akan ditanggapi dengan sikap militer jika diperlukan, seperti pada putaran sebelumnya,”
kata Abdul-Malik al-Houthi dalam pidato yang disiarkan televisi Al-Masirah.
Abdul-Malik menegaskan bahwa kelompoknya siap mengambil langkah militer apabila konflik semakin meluas.
Ia menilai serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berdampak besar terhadap stabilitas kawasan dan kepentingan global.
Menurutnya, aksi militer tersebut telah merugikan ekonomi dunia serta memperburuk kondisi keamanan regional.
Perkembangan di kawasan ini selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel bekerja untuk melaksanakan rencana zionis yang menargetkan semua negara di kawasan ini, dengan tujuan mengubah Timur Tengah dan menciptakan Israel Raya,”
katanya.
Peran Houthi dalam Konflik Kawasan
Kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak tahun 2014.
Dalam beberapa waktu terakhir, kelompok ini aktif melakukan serangan sebagai bagian dari dinamika konflik regional.
Mereka diketahui pernah meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta menargetkan kapal-kapal yang melintas di Laut Merah.
Aksi tersebut disebut sebagai respons atas serangan Israel di Jalur Gaza yang telah menyebabkan lebih dari 72.000 korban jiwa sejak Oktober 2023.
Eskalasi Konflik Iran vs AS-Israel
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran sejak akhir Februari.
Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melakukan serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk Israel serta wilayah lain seperti Yordania, Irak, dan negara-negara kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika.
Konflik yang terus memanas ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga memengaruhi stabilitas global.
Gangguan terhadap infrastruktur, meningkatnya risiko keamanan, serta terganggunya jalur perdagangan dan penerbangan internasional menjadi konsekuensi nyata dari eskalasi tersebut.
Dengan pernyataan tegas dari Houthi yang siap melakukan intervensi militer, situasi geopolitik global diperkirakan akan semakin tidak menentu dan berpotensi meluas ke konflik yang lebih besar.


