Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membawa belasan pengusaha dari perusahaan raksasa AS saat mengunjungi China pada Rabu, 13 Mei 2026. Dalam kunjungan itu, Trump berharap dapat mencapai kesepakatan jumbo terkait kerja sama perdagangan. Namun, rencana tersebut tampaknya tidak berjalan mulus.
Trump mengklaim pihaknya telah mencapai kesepakatan perdagangan fantastis yang menguntungkan kedua negara saat bertemu Presiden China Xi Jinping dalam putaran terakhir pembicaraan di Beijing.
Presiden AS itu didampingi delegasi bisnis tingkat tinggi dari berbagai sektor, mulai dari pertanian, penerbangan, kendaraan listrik, hingga chip kecerdasan buatan (AI). Trump bahkan menggambarkan hubungan AS-China sebagai “hubungan ekonomi paling penting di dunia”.
Melansir BBC International, Jumat, 15 Mei 2026, ekspektasi soal kesepakatan perdagangan besar harus pupus setelah KTT lebih banyak diwarnai retorika dan simbolisme ketimbang hasil ekonomi konkret.
Hal itu terlihat sejak hari pertama pertemuan yang hanya menampilkan seremoni megah dan bahasa diplomatik optimistis, tetapi tanpa terobosan perdagangan menyeluruh maupun perjanjian bisnis signifikan.
Trump dan Xi menggelar pembicaraan tertutup selama lebih dari dua jam pada Kamis, 14 Mei 2026. Gedung Putih menyebut pertemuan tersebut berlangsung produktif. Trump bahkan mengklaim pembicaraan dengan Xi merupakan salah satu pertemuan puncak terbesar yang pernah ada.

Klaim Kesepakatan Boeing Tak Sesuai Ekspektasi
Terlepas dari klaim Trump soal kesepakatan perdagangan fantastis, faktanya tidak ada perjanjian perdagangan besar maupun kesepakatan struktural yang benar-benar tercapai.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan China setuju memesan 200 pesawat Boeing. Ini disebut sebagai pembelian pertama pesawat komersial buatan AS dalam hampir satu dekade.
Namun, angka tersebut masih jauh di bawah ekspektasi banyak analis yang memperkirakan pesanan bisa mencapai 500 unit. Saham Boeing bahkan turun lebih dari 4 persen setelah komentar Trump tersebut ditayangkan.
Negosiasi Tarif Masih Alot
Selain itu, masih ada tanda tanya besar terkait gencatan senjata perdagangan yang disepakati Oktober lalu. Dalam kesepakatan itu, Washington menunda kenaikan tarif tinggi terhadap barang-barang China, sementara Beijing melonggarkan pembatasan ekspor logam tanah jarang.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, yang turut mendampingi Trump di China, mengatakan belum ada keputusan apakah kedua negara akan memperpanjang gencatan senjata perdagangan setelah November mendatang.
Meski begitu, Gedung Putih menyebut kedua pemimpin sepakat membentuk “Dewan Perdagangan” guna mengelola hubungan dagang tanpa harus membuka kembali negosiasi tarif secara penuh.
Elon Musk dan Nvidia Jadi Sorotan

Kunjungan ini memperlihatkan citra publik sama pentingnya dengan hasil yang ingin dicapai. Salah satu momen paling disorot adalah ketika Air Force One mendarat di Beijing dan Elon Musk turun lebih dulu dibanding sejumlah pejabat senior lainnya.
Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang terlihat berada dekat Trump selama upacara penyambutan. Momen itu dianggap melambangkan pentingnya kendaraan listrik, AI, dan semikonduktor dalam hubungan AS-Tiongkok.
Tesla sendiri sangat bergantung pada Gigafactory Shanghai dan pasar konsumen China, sementara Nvidia berada di pusat persaingan AI dan pembatasan ekspor chip canggih oleh AS.
Kehadiran Huang juga memicu spekulasi bahwa isu AI dan akses chip menjadi fokus utama pembicaraan, bahkan melebihi perkiraan sebelumnya.
Namun, Trump kemudian hanya mengklaim China akan menginvestasikan ratusan miliar dolar kepada para pengusaha tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
China Janji Buka Akses Pasar
Menurut Jamieson Greer, kesepakatan pembelian produk pertanian dan daging sapi AS oleh China telah diselesaikan.
Petani AS selama ini berupaya mendapatkan akses pasar lebih luas di China untuk produk kedelai, daging sapi, dan unggas. Namun, hingga kini belum ada detail resmi yang diumumkan.
Gedung Putih mengatakan pembicaraan juga mencakup perluasan akses pasar China bagi perusahaan-perusahaan AS serta peningkatan investasi China ke sektor industri AS.
Di sisi lain, Xi menyatakan pintu perdagangan China akan terbuka lebih lebar dan perusahaan-perusahaan Amerika bakal memiliki prospek lebih besar di pasar China.
Xi juga menyerukan perluasan kerja sama di bidang perdagangan, pertanian, kesehatan, pariwisata, hingga penegakan hukum. Meski begitu, tidak ada rincian konkret terkait implementasi kerja sama tersebut.
Bagi perusahaan AS, China tetap menjadi pasar utama sekaligus lingkungan bisnis yang menantang akibat regulasi, birokrasi, dan ketidakpastian geopolitik.
Taiwan Jadi Isu “Paling Sensitif”
Selain minimnya kesepakatan perdagangan, salah satu perubahan paling mencolok dari KTT tersebut adalah bagaimana Beijing kini menghubungkan isu Taiwan dengan hubungan ekonomi yang lebih luas bersama AS.
Selama setahun terakhir, Taiwan lebih sering dipandang sebagai salah satu titik gesekan antara AS dan China, terutama terkait kerja sama semikonduktor, hubungan perdagangan AS-Taiwan, serta penjualan senjata ke Taipei.
Namun, pesan yang muncul dari pertemuan terbaru menunjukkan Taiwan kini diposisikan sebagai syarat penting dalam hubungan perdagangan AS-China.
Menurut pernyataan resmi Beijing, Xi menegaskan Taiwan tetap menjadi isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
Masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan Tiongkok-AS. Jika tidak ditangani dengan baik, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan berkonflik,”
kata Xi.
AI Tetap Jadi Jurang Pemisah

Teknologi masih menjadi jurang pemisah terbesar antara AS dan China. Kontrol ekspor AS terhadap semikonduktor canggih dan peralatan pembuat chip, yang bertujuan membatasi akses China terhadap teknologi AI mutakhir, tetap diberlakukan. Jamieson Greer menegaskan isu tersebut bukan fokus utama pembahasan.
Di sisi lain, Beijing terus mendorong akses lebih luas terhadap teknologi canggih sambil mengkritik langkah AS yang dianggap berupaya menghambat perkembangan industri China.
Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan menjadi topik besar dalam pembicaraan. Namun, tidak ada penyebutan rinci soal AI dalam transkrip resmi hasil diskusi hari pertama KTT.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan delegasi membahas batasan AI dalam forum tersebut.
Sangat penting bagi AS mempertahankan keunggulan atas China dalam bidang AI,”
ujar Bessent.
Trump Bahas Iran dan Selat Hormuz
Trump juga memasuki pembicaraan dengan harapan memperoleh dukungan China terkait konflik Iran dan stabilitas pasar minyak global.
Xi ingin melihat Selat Hormuz dibuka dan mengatakan, ‘Jika saya bisa membantu, saya ingin membantu,”
ujar Trump kepada Fox News.
Kementerian Luar Negeri China juga mengeluarkan pernyataan yang menyerukan gencatan senjata komprehensif dan berkelanjutan.
Jalur pelayaran harus dibuka kembali sesegera mungkin sebagai respons terhadap seruan komunitas internasional,”
demikian pernyataan tersebut.
Volatilitas harga minyak dan gangguan jalur pasokan global disebut telah meningkatkan biaya impor China sekaligus memicu kenaikan harga energi dunia.
Trump menilai China dapat menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Iran menjaga stabilitas arus pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.


