Kasus campak di Indonesia saat ini cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi.
Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 pada awal tahun, meskipun kini menunjukkan tren penurunan menjadi 177 kasus.
Melihat tingginya kasus campak, masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyakit ini ringan karena ditandai ruam mewah di area tubuh.
Padahal campak memiliki risiko yang serius berdampak jangka panjang hingga kematian.
Pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC), Ray Wagiu Basrowi, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit paling menular di dunia.
Banyak orang masih berpikir campak itu biasa, padahal campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia dan bisa berakibat fatal,”
ujarnya dikutip dari akun Instagram @hcc.indonesia, Senin, 30 Maret 2026.
Virus campak tidak hanya menyebabkan kulit ruam, tapi juga bisa sangat berbahaya dan menyebabkan pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak), hingga gagal napas.
Kondisi ini makin parah bagi mereka yang memiliki kondisi atau daya tahan tubuh yang lemah.
Ini yang jarang diketahui, setelah terinfeksi campak sistem imun bisa ‘reset’, artinya tubuh kehilanga memori terhadap infeksi sebelumnya. Kondisi ini dikenal sebagai immune amnesia,”
jelas Ray.
Menurut Ray, dampaknya bukan hanya soal virus, tapi kondisi tubuh juga sangat memengaruhi tingkat keparahan campak.
Beberapa faktor yang dapat memperburuk infeksi antara lain kelelahan, kurang tidur, stres kronis, serta paparan virus yang tinggi.
Kombinasi ini bisa membuat infeksi jadi lebih berat,”
ucapnya.
Ia pun memberi contoh bahwa tenaga kesehatan adalah kelompok yang paling rentan terpapar virus campak, karena sering terpapar pasien, memiliki jam kerja panjang, serta tekanan mental yang besar.
Dengan risiko yang tinggi ini, menurut Ray pencegahan menjadi langkah paling penting dalam menghadapi campak.
Vaksinasi tetap menjadi perlindungan utama untuk mencegah infeksi maupun komplikasi berat.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih peka terhadap gejala awal, seperti demam tinggi, ruam merah, batuk atau pilek, serta mata merah.
Ia pun menekankan bahwa banyak masyarakat yang abai dan menganggap penyakit lama tidak berarti tidak berbahaya.
Menurut Ray yang berubah bukan hanya virusnya saja tapi kondisi manusia saat ini, seperti lebih lelah, stres, dan rentan.
Kesehatan bukan hanya soal pengobatan tapi juga perlindungan dan pemuliuan tubuh,”
tambahnya.

