Kasus campak semakin mengkhawatirkan setelah banyak kabar pasien, baik anak-anak maupun dewasa yang meninggal dunia.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi.
Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 pada awal tahun, meskipun kini menunjukkan tren penurunan menjadi 177 kasus.
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengatakan campak bukan penyakit biasa, melainkan penyakit yang sangat menular dan perlu perhatian serius karena dapat memicu berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa. Salah satu komplikasi paling mematikan yang sering menyertai campak adalah pneumonia.
Data dari CDC Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1 dari 20 anak yang terinfeksi campak mengalami pneumonia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pneumonia menjadi penyebab kematian paling umum pada anak-anak akibat campak. Artinya, di balik ruam merah yang tampak biasa, ada ancaman serius di organ pernapasan yang bisa berakibat fatal,”
ujar Prof Erlina dalam cuitannya di X @erlinaburhan, Selasa, 31 Maret 2026.
Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun memiliki risiko yang nyata. Sebuah studi yang dipublikasikan di Vietnam Medical Journal mencatat bahwa dari 294 pasien dewasa yang terinfeksi campak, sebanyak 27,2 persen di antaranya mengalami komplikasi pneumonia.
Ini membuktikan bahwa campak dan komplikasinya tidak pandang usia, dan semua kelompok umur perlu waspada,”
tambahnya
Lalu, bagaimana campak bisa berujung pada pneumonia yang mematikan?
Prof Erlin menjelaskan proses ini terjadi secara bertahap. Semuanya bermula ketika virus campak masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.
Berbeda dengan anggapan umum, virus ini tidak langsung menyerang selaput lendir. Virus justru menginfeksi sel-sel kekebalan yang ada di paru, seperti makrofag, lalu membajak dan memanfaatkannya sebagai kendaraan untuk berkembang biak serta menyebar ke seluruh tubuh.
Setelah menguasai sel kekebalan di paru, virus kemudian berpindah ke kelenjar getah bening di sekitar saluran napas.
Di sinilah virus memperbanyak diri secara masif. Proses ini menyebabkan kerusakan besar padasistem imun, di mana jumlah limfosit (sel darah putih penjaga tubuh) menurun drastis.
Dari sini, virus memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, menandai dimulainya fase kritis penyakit,”
jelasnya.
Saat virus sudah menyebar, paru-paru mendapat serangan dari dua arah sekaligus. Pertama, serangan langsung oleh virus yang menginfeksi sel epitel saluran napas bagian bawah, menyebabkan peradangan hebat dan pembentukan sel raksasa di paru yang disebut giant cell pneumonia.
Kedua, karena sistem kekebalan sudah hancur, tubuh menjadi sangat rentan terhadap bakteri oportunistik. Inilah sebabnya infeksi bakteri sekunder seperti Streptococcus pneumoniae dengan mudah menyerang dan menyebabkan pneumonia bakterial.
Kombinasi dari serangan langsung virus dan serangan infeksi bakteri sekunder inilah yang membuat pneumonia pada campak begitu berbahaya,”
ucapnya
Kondisi ini tidak hanya menyebabkan peradangan berat, tetapi juga membuat paru-paru kehilangankemampuannya untuk bertukar oksigen secara optimal.
Pada anak-anak, lansia, atau mereka yang kekurangan gizi, dua serangan ini seringkali datang terlalu cepat untuk dilawan oleh tubuh yang sudah lemah.
Lebih lanjut Prof Erlina mengatakan, meskipun terlihat menakutkan, komplikasi ini bisa ditangani dengan tata laksana yang tepat.
Misalnya pemberian Vitamin A menjadi kunci utama karena terbukti mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak dengan campak.
Sementara untuk pasien yang sudah mengalami pneumonia atau infeksi telinga (otitis media), pemberian antibiotik sangat diindikasikan untuk membasmi infeksi bakteri sekunder yang memanfaatkan lemahnya sistem kekebalan pasien.
Di tengah ancaman alur penyakit yang berbahaya ini, ada satu solusi paling bijak dan terbukti efektif, yakni vaksin campak.
Vaksin ini benteng pertahanan yang melatih tubuh untuk mengenali dan melawan virus sebelum ia sempat menghancurkan sistem kekebalan.
Menurutnya, memberikan vaksin kepada anak-anak adalah investasi terbesar untuk kesehatan mereka di masa depan.
Pada minggu ke-9 tahun 2026, total akumulasi kasus campak mencapai 8.716 kasus dengan 10.826 suspek. Angka ini jadi alarm bagi masyarakat.
Untuk itu Prof Erlina mengimbau kepada masarakat untuk segera melakukan vaksin.
Lengkapi segera vaksinasi campak dan MMR untuk anak-anak. Dewasa yang belum divaksin, juga segera lakukan. Plus, terapkan protokol kesehatan: cuci tangan, tidak berbagi alat makan, dan bersihkan rumah dengan disinfektan,”
tambahnya.

