Pemerintah Iran menyatakan bahwa serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari telah menyebabkan kerusakan besar pada sektor pendidikan tinggi.
Lebih dari 30 universitas dilaporkan menjadi target serangan dalam konflik yang terus berlangsung.
Menteri Sains Iran, Hossein Simaei Sarraf, menegaskan bahwa institusi pendidikan sengaja dijadikan sasaran.
Hingga saat ini, lebih dari 30 universitas telah menjadi target langsung,”
ujar Sarraf kepada para wartawan saat mengunjungi Universitas Shahid Beheshti di Teheran utara, Minggu 5 April 2026 seperti dilansir Al Jazeera.
Salah satu kampus yang terdampak parah adalah Universitas Shahid Beheshti. Serangan yang terjadi pada Jumat pekan lalu menghancurkan sejumlah fasilitas, termasuk pusat penelitian di dalam kompleks kampus tersebut.
Institut Riset Laser dan Plasma di universitas tersebut dilaporkan menjadi salah satu target utama pemboman oleh pesawat tempur.
Klaim Israel: Target Riset Nuklir
Menurut laporan Times of Israel, pihak Israel menyatakan bahwa serangan diarahkan pada fasilitas penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan program nuklir dan persenjataan Iran.
Namun, Iran menilai pola serangan tersebut menunjukkan bahwa lokasi sipil, termasuk kampus, turut menjadi sasaran dalam konflik ini.
Meski kerusakan cukup besar, tidak ada korban jiwa dalam insiden di universitas tersebut. Hal ini dikarenakan aktivitas perkuliahan telah dialihkan ke sistem daring sejak konflik meningkat.
Sarraf juga mengungkapkan bahwa ilmuwan Iran telah lama menjadi sasaran dalam konflik ini. Ia menyebut beberapa profesor dari Universitas Shahid Beheshti sebelumnya juga menjadi korban dalam perang tahun lalu.
Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti membawa kita kembali ke Zaman Batu,”
kata Sarraf.
Kampus dan Fasilitas Riset Terdampak
Selain Universitas Shahid Beheshti, Universitas Sains dan Teknologi Teheran juga mengalami kerusakan.
Beberapa fasilitas penelitian, termasuk yang mengembangkan teknologi satelit domestik, dilaporkan hancur.
Serangan juga menyasar Institut Pasteur di pusat kota Teheran. Lembaga yang bergerak di bidang penelitian penyakit menular, produksi vaksin, dan layanan diagnostik ini mengalami kerusakan berat.
Organisasi Kesehatan Dunia mengonfirmasi bahwa fasilitas tersebut tidak lagi dapat beroperasi akibat dampak serangan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut bahwa lebih dari 20 fasilitas kesehatan telah menjadi target sejak awal Maret.
Salah satu yang terdampak adalah Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina yang mengalami kerusakan signifikan.
Sasar Industri Farmasi
Tak hanya sektor pendidikan dan kesehatan, sebuah perusahaan farmasi besar di dekat Teheran juga menjadi target serangan.
Iran menilai serangan tersebut bertujuan mengganggu distribusi obat, sementara Israel mengklaim fasilitas itu terkait produksi senjata kimia.
Serangan terhadap universitas, fasilitas riset, dan layanan kesehatan menunjukkan bahwa dampak konflik kini meluas ke berbagai sektor sipil.
Situasi ini memperburuk kondisi kemanusiaan serta mengganggu layanan publik di Iran.

