Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas setelah Teheran melancarkan serangan balasan ke pangkalan udara Amerika di Kuwait pada Kamis, 28 Mei 2026.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah AS menyerang Republik Islam tersebut. Kedua pihak pun saling menuduh telah melanggar gencatan senjata dan membahayakan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
Kuwait telah menembak jatuh rudal balistik tersebut,”
kata militer Amerika dan Kuwait, dikutip dari CNBC, Jumat, 29 Mei 2026.
Meski demikian, belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban jiwa akibat serangan tersebut.
Seorang pejabat AS mengatakan pasukan Amerika di Kuwait diduga menjadi target utama serangan. Sementara Iran mengklaim pangkalan AS diserang sebagai balasan atas operasi militer Amerika pada Rabu malam, 27 Mei 2026, di Bandar Abbas, kota pelabuhan Iran yang berada dekat Selat Hormuz.
AS Klaim Hancurkan Drone Iran
CENTCOM mengatakan serangan itu terjadi pada pukul 22.17 WIB dan berhasil menghancurkan lima drone serang satu arah yang dinilai menimbulkan ancaman nyata di dalam maupun sekitar Selat Hormuz.
Militer AS juga mengklaim berhasil mencegah peluncuran drone keenam dari lokasi kendali darat Iran di Bandar Abbas.
Seorang pejabat AS menyebut operasi tersebut bersifat terbatas dan tidak menunjukkan dimulainya kembali perang besar-besaran. Namun, drone Iran dinilai membahayakan pasukan Amerika di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut serta kapal-kapal komersial yang melintas.
Stasiun kendali darat Iran juga menjadi sasaran karena diduga akan digunakan untuk meluncurkan drone tambahan.
Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menyatakan pangkalan militer AS telah menjadi target serangan balasan mereka.
Kuwait sendiri sebelumnya juga pernah menjadi sasaran serangan Iran dan kelompok proksinya dalam konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Trump Kembali Ancam Iran dan Oman
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan Iran di wilayahnya. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan serangan AS lebih dulu telah memprovokasi Teheran.
Beberapa jam sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan damai antara kedua pihak masih jauh dari tercapai. Trump mengatakan dirinya tidak akan terburu-buru mengambil keputusan meski tekanan ekonomi global dan tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu terus meningkat.
Sebagai informasi, kendali Iran atas Selat Hormuz yang sempat ditutup sebagai respons terhadap serangan AS-Israel pada akhir Februari telah memicu guncangan ekonomi global. Harga minyak, gas alam, pupuk, hingga berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan tajam.
Trump juga memperingatkan Oman, sekutu AS di kawasan Timur Tengah, agar tidak berpihak kepada Iran dalam pengendalian Selat Hormuz.
Oman akan bersikap seperti negara lain yang memusuhi Iran, atau kita harus menghancurkan mereka,”
ujar Trump.



