Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mengingatkan kepada Kementerian Lembaga (K/L) agar melakukan belanja berkualitas. Ia menyatakan, terus memantau ketat realisasi belanja K/L.
Purbaya mengatakan, bila ada kementerian/lembaga yang melakukan belanja tidak semestinya, maka akan mendapat konsekuensi dari Kementerian Keuangan.
Terkait kualitas belanjanya ke depan, kami akan monitor terus. Kalau ada belanja yang ngawur, pasti akan kami beri peringatan ke kementerian/lembaga terkait. Jika diteruskan, kami bisa tidak membayarkannya,”
ujar Purbaya dalam konferensi pers dikutip Selasa, 7 April 2026.
Purbaya mengatakan, disiplin belanja sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun lalu. Sehingga, belanja 2025 diklaimnya lebih terkendali.
Langkah disiplin ini sudah kita lakukan sejak tahun 2025 sehingga belanja lebih terkontrol,”
katanya.
Belanja Dipercepat APBN Defisit
Adapun terkait membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di awal 2026 sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Maret. Menurutnya, defisit itu merupakan konsekuensi dari langkah percepatan belanja yang dilakukan pemerintah.
Terkait belanja yang dipercepat sehingga defisit membesar di awal tahun, ini sengaja kita lakukan. Saya ingin menciptakan kondisi di mana belanja pemerintah tumbuh hampir merata sepanjang tahun, jangan sampai menumpuk di akhir tahun seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga dampak ekonominya tidak optimal,”
katanya.
Purbaya menjelaskan, hampiran seluruh pos belanja meningkat. Namun, realisasi belanja paling besar adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hampir merata, tapi yang paling besar ya BGN (Badan Gizi Nasional) karena memang anggarannya besar,”
imbuhnya.



