Nilai tukar rupiah rupiah ditutup ambruk 0,14 persen atau ke level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Pelemahan rupiah ini menjadi yang terendah sepanjang sejarah RI.
Merespons hal ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa penyebab pelemahan rupiah ini karena tingginya ketidakpastian global. Ia menyatakan, pihaknya berupaya menstabilkan rupiah melalui seluruh instrumen operasi moneter (OM).
Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI). Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar,”
ujar Destry dalam keterangan resmi Selasa, 7 April 2026.
Destry menjelaskan, pihaknya secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang mulai spot market, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Non Deliverable Forward (NDF) di offshore market.






