Pemerintah China secara tiba-tiba mengumumkan penutupan sebagian wilayah udara selama 40 hari. Langkah tersbeut dilakukan oleh pemerintah China mulai dari 27 Maret sampai 6 Mei 2026 mendatang.
Dalam keterangannya, wilayah yang ditutup mencakup area perairan lepas pantai, termasuk juga wilayah utara dan selatan Shanghai.
Menurut Federal Aviation Administration (FAA) dari Amerika Serikat, zona yang ditutup meliputi wilayah luas dari Laut Kuning hingga Laut China Timur. Wilayah ini juga berbatasan langsung dengan Korea Selatan dan Jepang.
Pemberitahuan penutupan wilayah udara ini dirilis tanpa disertai alasan resmi dari pemerintah China.
Situasi ini menimbulkan berbagai spekulasi, terutama karena biasanya kebijakan serupa dilakukan saat ada latihan militer. Namun, berbeda dari biasanya, kali ini tidak ada pengumuman terkait aktivitas militer yang menyertainya.
Diduga Terkait Aktivitas Militer
Berdasarkan laporan Anadolu Agency, China sebelumnya kerap menutup wilayah udara saat menggelar latihan militer, meski umumnya hanya berlangsung beberapa hari. Penutupan selama 40 hari ini dinilai tidak biasa dan memicu perhatian internasional.
Kebijakan ini juga muncul di tengah dinamika hubungan antara China dan Taiwan. Sebelumnya, Taiwan hampir setiap hari melaporkan aktivitas militer China di wilayah sekitarnya. Bahkan, Beijing sempat menggelar latihan militer besar pada akhir tahun lalu.
Pemerintah Taiwan mengecam tindakan tersebut karena dianggap sebagai bentuk tekanan berkelanjutan.
Sengketa Lama China dan Taiwan
China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan berupaya mempertahankan statusnya sebagai entitas yang memiliki pemerintahan sendiri.
Meski wilayah udara yang ditutup kali ini berada cukup jauh dari Taiwan, situasi tersebut tetap memicu kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan.
Sejauh ini, penutupan wilayah udara tersebut dilaporkan tidak berdampak signifikan terhadap penerbangan sipil. Namun, koordinasi tetap diperlukan agar jalur penerbangan dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Menariknya, pemberitahuan tersebut juga tidak mencantumkan batas ketinggian vertikal, yang menambah ketidakjelasan terkait tujuan kebijakan ini.
Penutupan wilayah udara tanpa penjelasan resmi membuat banyak pihak internasional mempertanyakan maksud di balik kebijakan tersebut.
Dengan durasi yang cukup panjang dan lokasi yang strategis, langkah ini menjadi salah satu isu yang terus dipantau oleh komunitas global.


