Pengiriman melalui Selat Hormuz ternyata sampai dengan saat ini masih belum pulih total, meskipun Amerika Serikan dan Iran sudah sepakat untuk melakukan gencatan senjata sementara.
Dengan masih belum pulihnya pengiriman dari Selat Hormuz pasokan energi dunia masih terancam. Bahkan hal ini menjadi salah satu gangguan energi global terbesar dalam sejarah.
Hingga saat ini, data pelacakan kapal masih menunjukan hanya sedikit kapal yang bisa melewata Selat Hormuz sejak gencatan senjata yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Iran.
Seperti dilansir dari Aljazeera, salah satu perusahaan intelijen pasar Kpler mengungkapkan hingga Kamis 9 April 2026 hanya 23 kapal yang berhasil melewati Selat Hormuz.
Angka ini jauh di bawah normal, menunjukkan aktivitas pelayaran masih sangat terbatas.
Ratusan Kapal Masih Terjebak
Lebih dari 600 kapal, termasuk sekitar 325 kapal tanker, dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk akibat pembatasan akses.
Data tersebut berasal dari Lloyd’s List Intelligence, yang menyoroti dampak besar terhadap distribusi energi global.
Analis risiko perdagangan dari Kpler, Ana Subasic, menyatakan bahwa meskipun ada sedikit pergerakan, kondisi belum sepenuhnya pulih.
Meskipun beberapa pergerakan kapal telah kembali, lalu lintas tetap sangat terbatas, pemilik kapal yang patuh kemungkinan akan tetap berhati-hati, dan kapasitas transit yang aman diperkirakan akan tetap terbatas maksimal 10–15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan, tanpa mempertimbangkan biaya tambahan yang dikenakan,”
kata analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic seperti dlansir dari Aljazeera, Jumat 10 April 2026.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Sebelum konflik memanas pada akhir Februari, jalur ini mampu menangani sekitar 120 hingga 140 pelayaran setiap hari.
Saling Tuduh AS dan Iran
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, menuding Iran tidak menjalankan komitmennya dalam kesepakatan gencatan senjata. Bahkan Trump cukup geram dangan apa yang dilakukan oleh Iran di Selat Hormuz.
Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!”
kata Trump.
Di lain pihak, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai justru AS yang tidak mematuhi kesepakatan tersebut. Hal ini dikatakan oleh Araghchil lantaran masih ada penyerangan yang dilakukan ke Lebanon.
Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang menyaksikan apakah mereka akan menepati komitmennya,”
kata Araghchi.
Harga Minyak Kembali Naik
Setelah sempat turun usai pengumuman gencatan senjata, harga minyak kembali menguat seiring belum pulihnya jalur distribusi.
Minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran 96 dolar AS per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar saham Asia justru menunjukkan penguatan.
Indeks Nikkei 225 naik sekitar 1,8 persen, sementara KOSPI dan Hang Seng Index masing-masing mencatat kenaikan sekitar 2 persen dan 1 persen.
Meski ada gencatan senjata, kondisi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa krisis energi global belum sepenuhnya berakhir.
Ketidakpastian geopolitik dan pembatasan jalur pelayaran masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasar energi dunia.


