Pemerintah China menegaskan pentingnya penyelesaian konflik di Timur Tengah melalui jalur diplomasi, meskipun perundingan antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut proses negosiasi tetap menjadi langkah penting dalam meredakan ketegangan kawasan.
China menilai bahwa dialog tetap menjadi opsi terbaik dibandingkan eskalasi konflik bersenjata.
Negosiasi AS-Iran di Islamabad merupakan langkah menuju deeskalasi. China berharap gencatan senjata akan dipertahankan, perselisihan akan diselesaikan melalui cara politik dan diplomatik,”
kata Guo Jiakun dalam keterangan pers di Beijing, Senin 13 Maret 2026.
Ia juga menambahkan bahwa keberlanjutan dialog dapat membuka jalan bagi pemulihan stabilitas di kawasan Teluk.
Negosiasi lebih baik dibanding menyulut kembali api perang, dan kondisi akan tercipta untuk pemulihan perdamaian di Teluk secepatnya,”
tambah Guo Jiakun.
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berujung Buntu
Pertemuan antara delegasi AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad pada 10–11 April 2026 tidak menghasilkan kesepakatan konkret.
Delegasi AS dipimpin oleh JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Mohammad Bagher Qalibaf. Salah satu isu utama yang memicu kebuntuan adalah sengketa terkait Selat Hormuz.
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari 2026 berdampak besar pada pasar global. Jalur ini merupakan salah satu rute vital distribusi energi dunia.
Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut, sehingga gangguan di wilayah ini langsung memicu lonjakan harga energi.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menilai kegagalan negosiasi disebabkan oleh sikap Amerika Serikat yang dianggap tidak konsisten.
Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi selama 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, ketika hanya tinggal selangkah lagi dari ‘MoU Islamabad’, kami justru menghadapi maksimalisme, tuntutan yang berubah-ubah, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik akan dibalas dengan niat baik. Permusuhan akan melahirkan permusuhan,”
kata Araghchi dalam unggahan di platform media sosial X, Senin 13 April 2026.
Ketegangan Militer di Selat Hormuz
Di tengah situasi tersebut, militer AS mengklaim telah mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz untuk mendukung operasi pembersihan ranjau. Namun, klaim ini dibantah oleh pihak Iran.
Ranjau laut yang diduga dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menimbulkan kekhawatiran baru terkait keamanan jalur pelayaran internasional.
Meski sebelumnya telah disepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026, kondisi di lapangan menunjukkan situasi masih sangat rentan.
Perbedaan pandangan antara AS dan Iran, termasuk terkait konflik di Lebanon, semakin memperumit proses perdamaian.
Dampak Global: Energi dan Stabilitas Terancam
Krisis di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global. Harga minyak yang fluktuatif menjadi indikator nyata dampak konflik ini.
Dengan kondisi yang belum stabil, dunia kini menunggu apakah jalur diplomasi benar-benar mampu meredakan ketegangan atau justru konflik akan semakin meluas.
Meski negosiasi belum membuahkan hasil, China tetap optimistis bahwa dialog akan menjadi kunci penyelesaian konflik.
Pendekatan diplomatik dinilai sebagai satu-satunya jalan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan menjaga stabilitas global.
Foto: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun/Kementerian Luar Negeri China untuk Indonesia



