Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan, Dicky Budiman memberi tanggapan terkait berita viral di media sosial tentang sejumlah pria di Makassar meminum oli mesin secara bergiliran lantaran dipercaya untuk kesehatan.
Dicky mengatakan minum oli mesin setara dengan minum racun industri. Ia melihat kasus di Makassar ini menunjukkan adanya perilaku berisiko tinggi yang berpotensi berdampak pada kesehatan yang sangat serius.
Oli mesin itu campuran kompleks hidrokarbon. Ada aditif kimianya, ada logam berat di situ dan senyawa toksik lain, jadi bukan food grade substance,”
ujar Dicky kepada Owrite.id, Selasa, 14 April 2026.
Menurut Dicky, ketika seseorang minum oli akan memiliki dampak keracunan akut yang menyebabkan iritasi gastrointestinal, saluran cerna berat, mual muntah, nyeri perut, diare, termasuk juga potensi yang paling berbahaya adalah aspirasi pneumonitis.
Jadi pada saat muntah, muntahannya masuk ke paru. Ini yang menyebabkan peradangan paru akut, menyebabkan hipoksia dan bahkan kematian. Selain itu, menyebabkan juga depresi sistem saraf pusat. Jadi ada pusing, ada penurunan kesadarannya, ini karena jenis hidrokarbonnya itu,”
jelasnya.
Selain itu juga bisa menyebabkan keracunan kimia akut karena kandungan logam berat atau aditif toksik.
Dalam toksikologi, hidrokarbon cair seperti ini memiliki risiko tinggi menyebabkan chemical pneumonia yang sering lebih mematikan dibanding efek pada lambungnya.
Dan dampak jangka panjangnya kalau dikonsumsi berulang atau dalam jumlah tertentu, meskipun sekali, tapi jumlahnya toksik, ini akan menyebabkan kerusakan hati, kerusakan ginjal, dan juga gangguan di darah karena logam beratnya itu. Dan termasuk potensi menyebabkan kanker. Dan akhirnya bisa juga termasuk mengganggu fungsi hormon,”
paparnya.
Dicky mengatakan efek-efek tersebut memang tidak langsung terasa, sehingga kerap disalahartikan sebagai aman. Padahal kerusakannya terjadi secara diam-diam.
Hal tersebut yang membuat masyarakat percaya akan manfaatnya, sebab mereka kurang literasi dan edukasi.
Menurut Dicky, fenomena tersebut kombinasi beberapa faktor epidemiolog perilaku, yang pertama adalah distorsi persepsi manfaat, di mana ada keyakinan bahwa apa yang dikonsumsi dapat meningkatkan stamina.
Selain itu narasi pseudosains namanya, contohnya masyarakat mempercayai bahwa oli bikin mesin kuat, jadi manusia juga kuat, padahal hal itu salah besar.
Termasuk efek media sosial dan viralisasi. Jadi konten ekstrem yang menarik perhatian itu dianggap bukti. Nah, ini karena critical thinking juga yang lemah. Termasuk validasi sosial. Jadi ketika banyak yang like dan share, ini yang cenderung disalahartikan menggantikan validasi ilmu, ini yang juga berbahaya,”
tambahnya.

