Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan akhir-akhir ini. Pada penutupan perdagangan Selasa, 14 April 2026 rupiah melemah 0,13 persen ke level Rp17.127 per dolar AS.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita mengungkapkan pelemahan rupiah di kisaran Rp17.000 akan menekan daya beli masyarakat, meskipun efeknya tidak akan langsung terasa.
Mekanisme utamanya melalui kenaikan harga barang impor atau barang yang menggunakan bahan baku impor. Dalam beberapa bulan, tekanan ini biasanya mulai terlihat dalam bentuk kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan biaya hidup,”
ujar Ronny saat dihubungi Owrite.id Selasa, 14 April 2026.
Ronny menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah akan memberikan dampak besar pada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah. Sebab, sebagian besar pengeluaran digunakan untuk konsumsi dasar.
Sedangkan kelompok masyarakat kelas menengah juga akan merasakan tekanan, terutama dari kenaikan biaya pendidikan, kesehatan, dan cicilan. Dari sisi pelaku usaha, mereka yang memiliki usaha kecil dengan ketergantungan pada bahan baku impor akan menghadapi tekanan ganda.
Pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi tekanan ganda, yakni biaya produksi naik dan permintaan melemah,”
katanya.
Ronny mengungkapkan, terdapat sektor yang paling sensitif akibat melemahnya rupiah, yaitu yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor.
Energi menjadi yang paling utama, karena Indonesia masih mengimpor minyak, sehingga tekanan nilai tukar akan meningkatkan biaya BBM dan LPG, tergantung pada kebijakan subsidi pemerintah,”
katanya.
Sementara di sektor pangan komoditas seperti gandum, kedelai, dan daging sapi impor berpotensi mengalami kenaikan harga. Sehingga, akan memberikan pada produk turunan seperti mie instan, tahu, dan tempe.
Selain itu, sektor manufaktur seperti elektronik, otomotif, dan farmasi juga rentan karena banyak menggunakan komponen impor. Menurutnya, dampak lanjutan juga akan terlihat pada sektor transportasi dan logistik, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga secara lebih luas.
Dampaknya ke Inflasi
Ronny melanjutkan, secara empiris dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi di Indonesia relatif terukur, namun tetap signifikan. Sebab, setiap rupiah terdepresiasi maka akan cenderung mendorong inflasi melalui mekanisme imported inflation, dengan besaran bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi permintaan domestik.
Berdasarkan hitungannya, dengan asumsi pelemahan rupiah ke level Rp17.000 mencerminkan depresiasi sekitar 9–10 persen, maka tambahan inflasi akan ada di kisaran 0,5 hingga 1 persen dalam beberapa kuartal ke depan.
Namun angka ini bisa meningkat jika diikuti oleh penyesuaian harga energi atau tekanan harga pangan global, dan sebaliknya bisa lebih rendah jika pemerintah menahan harga-harga strategis atau jika daya beli masyarakat melemah sehingga menahan kenaikan harga lebih lanjut,”
imbuhnya.


