Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada Selasa, 2 Juni 2026 tercatat anjlok sebesar Rp25 ribu per gram.
Mengutip dari data Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga pecahan satu gram emas Antam anjlok ke angka Rp2.774.000 per gram dari perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga ikut merosot Rp25.000 ke level Rp2.584.000 per gram.
Adapun, emas Antam dijual dengan beragam ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Pilihan gramasi dari yang terkecil hingga terbesar ini memudahkan masyarakat untuk membeli emas sesuai kebutuhan.

Berikut rincian harga emas batangan Antam, Selasa, 2 Juni 2026.
- 0,5 gram: Rp 1.437.000
- 1 gram: Rp 2.774.000
- 5 gram: Rp 13.645.000
- 10 gram: Rp 27.235.000
- 25 gram: Rp 67.962.000
- 50 gram: Rp 135.845.000
- 100 gram: Rp 271.612.000
- 250 gram: Rp 678.765.000
- 500 gram: Rp 1.357.320.000
- 1.000 gram: Rp 2.714.600.000.
Perlu diketahui, untuk ukuran emas 0,5 gram, 1 gram, 2 gram, 3 gram dan 5 gram sedang tidak tersedia di butik Pulo Gadung.
Emas Global
Sementara itu, harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Melansir CNBC, harga emas di pasar spot turun 0,4 persen menjadi US$4.517,37 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS terkoreksi 1,9 persen ke level US$4.506,30 per troy ounce.
Pelemahan ini terjadi setelah dolar AS menguat, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Tekanan terhadap emas juga dipicu meningkatnya ekspektasi bahwa bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan prospek suku bunga yang tetap tinggi berpotensi terus membebani harga emas. Di saat yang sama, konflik Iran-AS kembali memanas setelah Teheran mengklaim menyerang pangkalan militer AS sebagai balasan atas serangan Washington terhadap target militer Iran pada akhir pekan lalu.
Selain itu, harga minyak yang terus naik akibat konflik Timur Tengah semakin memperkuat kekhawatiran inflasi. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan bank sentral kembali menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.




